MAKALAH
Oleh: Anselmus Sudirman
Abstract
The purpose of this
paper is to discuss extended writing strategies dedicated to generating
university students’ awareness of critical thinking and scholarly-related
domains of writing tradition. To affirm writing as a means to develop
cognitive-exploratory abilities is not to deny that students are challenged to
recognize untapped writing strategies: (a) defining, (b) serializing, (c)
classifying, (d) summarizing, (e) comparing and (f) analyzing. The embodiment
of this dynamic discourse reflects how other viable writing strategies such as
brainstorming, word-mapping and quick writing encourage in-depth interpretation,
that is, intellectually formulaic and fundamental. The method intended for completing this paper
was qualitative-interpretative that basically included the pedagogical interest
of close analysis, use of supporting materials, and logical organization of
ideas. The results of this paper contribute something remarkable toward the
mastery of writing strategies either for applying strategic arguments in
practice, or academic thinking within
persistent writing activities.
Key words: defining, serializing,
classifying, summarizing, comparing, analyzing, brainstorming
A. PENDAHULUAN
Menulis merupakan salah satu
kegiatan penting dalam kehidupan. Dari hari ke hari kontribusinya sungguh nyata
dan positif dalam mengembangkan bakat dan mengasah kemampuan intelektual, daya
refleksi dan imajinasi mahasiswa.
Ikhtiar untuk melakukannya memerlukan
aplikasi strategi-strategi mumpuni. Enam di antaranya berhubungan langsung
dengan upaya untuk (a) mendefinisikan, (b) membuat urutan cerita, (c)
mengelompokkan, (d) meringkas, (e) membandingkan-bandingkan, dan (f)
menganalisis setiap pokok permasalahan (Kiniry & Rose, 1990).
Tanpa menguasai strategi-strategi
menulis tersebut, mahasiswa tidak mengetahui teknik-teknik menyampaikan gagasan
secara benar, kritis dan sistematis. Akibatnya argumentasi dalam setiap ulasan
tulisan disajikan tidak sesuai dengan analisis permasalahan, data pendukung dan
pertalian ide-ide yang logis. Padahal argumentasi merupakan kegiatan
intelektual yang menekankan proses-proses berpikir induktif dan deduktif atau
kombinasi keduannya yang mengiringi upaya mengasah kemampuan menulis secara
berkelanjutan.
B. PEMBAHASAN
Strategi pertama
menekankan bahwa mendefinisikan sesuatu bukan merupakan kegiatan mekanik semata
dengan mencatat kata dan definisi kata dari kamus, mengingat atau mendokumentasikannya.
Tetapi dalam menulis esei atau karya ilmiah, definisi kata secara terperinci sangat
diperlukan agar pesan yang ingin disampaikan jelas, akurat dan mudah dipahami.
Untuk itu, esensi penulisan karya ilmiah
tidak terlepas dari upaya membuat klasifikasi istilah di kamus yang dimulai
dengan mendaftar kategori kata. Misalnya, ketika mahasiswa mengatakan bahwa
soliloqui adalah suatu jenis pidato, maka definisi kata yang dimaksud dibeberkan
dari kategori umum ke kategori khusus. Dengan demikian, soliloqui adalah pidato
yang disampaikan oleh pemeran tunggal dalam seni teatrikal di atas panggung.
Sesungguhnya menulis definisi kata bisa
dilakukan dengan menggunakan contoh-contoh. Misalnya, pernyataan umum “kelenjar
adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menghasilkan cairan” kurang tepat karena
tidak ada spesifikasi organ tubuh yang mana, dan cairan seperti apa. Maka definisi
ini perlu dirumuskan kembali dengan menyebutkan contoh-contoh: “Kelenjar yang kelihatan
nyata adalah organ tubuh yang berukuran lebih besar seperti hati dan pankreas.
Dua organ ini menghasilkan cairan yang disalurkan ke usus kecil melalui saluran
atau pembuluh khusus.”
Contoh-contoh saja idak cukup! Hal lain yang
tidak kalah pentingnya adalah subtopik dari pokok pembahasan. Misalnya, ketika
dihadapkan dengan pertanyaan “Apa itu impresionisme?”, mahasiswa mengajukan definisi
formal: “Impresionisme mengacu pada gerakan para seniman Prancis tahun 1870-an
yang gemar menggunakan eksperimen-eksperimen dalam berkreasi seni melalui
efek-efek cahaya.” Subtopik dari definisi ini adalah spesifikasi seniman di
zaman itu – Pissaro, Monet, dan Renoir (Stott, 2001). Definisi ini akan lebih
terstruktur apabila dilengkapi dengan eksperimen-eksperimen berkesenian dari
seniman impresionis yang ada.
Dari kenyataan ini dapat dikatakan bahwa mendefinisikan
sesuatu merupakan proses berkelanjutan yang memerlukan dukungan seperti kegiatan
membaca buku-buku referensi dan konsistensi dalam menuangkan gagasan-gagasan.
Apabila seorang mahasiswa mendefinisikan nukleus sebuah sel, konteks dan tujuannya
tidak lain adalah menjelaskan lokasi pusat sel, perbedaan sel, dan membran yang
memisahkannya dari sisa sitoplasma sel.
Dalam mempelajari esei kesusastraan, mahasiswa
bisa membuat ringkasan kejadian-kejadian penting dari sebuah novel dan
mengikuti definisi-definisi yang berfokus pada aspek-aspek intrinsik atau
ekstrinsik untuk kemudian diinterpretasi dan dianalisis secara mendalam. Hal
ini beralasan karena setiap definisi menekankan fleksibilitas berdasarkan
kegunaan, urgensi dan kompleksitas masalah yang dibahas. Singkat kata,
definisi-definisi membentuk cara pandang mahasiswa terhadap rumusan
permasalahan.
Strategi menulis kedua adalah mengurutkan suatu cerita terutama untuk tulisan
ekspositori dengan menggunakan ekspresi: “Pertama…,
Kemudian…, Lalu…, Akhirnya…yang mewakili urutan-urutan kejadian. Penulis-penulis
karya ilmiah menggunakannya ketika menegaskan langkah-langkah prosedural, petunjuk-petunjuk,
rentetan-rentetan peristiwa, atau hubungan-hubungan antara satu gagasan dengan
gagasan lain, antara penyebab satu masalah dengan penyebab masalah lain. Upaya
ini berpatokan pada standar keakuratan, kejelasan, dan ketepatan menggunakan
kata-kata yang didukung oleh pemikiran logis dan kritis.
Strategi menulis ketiga adalah mengelompokkan benda, orang atau binatang berdasarkan
kategori-kategori yang berlaku. Misalnya, dari sederetan mobil di tempat
parkiran, pengelompokkan dilakukan berdasarkan warna, merek, type, bentuk dan
harga. Demikian pula, mahasiswa dikelompokkan berdasarkan kemampuan akademik,
minat dan bakat, dan latar belakang kehidupan sosial keluarganya.
Dalam bidang akademik, mahasiswa berusaha membuat
kategorisasi yang berangkat dari kategori umum (bidang humaniora) menuju kategori
khusus (bahasa dan sastra Indonesia). Mata kuliah di Perguruan Tinggi merupakan
contoh kategorisasi (misalnya, Reading)
yang kemudian diklasifikasi lagi menjadi subkategori mata kuliah Intensive Reading, dan Extensive Reading pada Jurusan
Pendidikan Bahasa Inggris (PBI).
Keuntungan-keuntungan apa yang bisa dipetik dari
kategorisasi? Untuk tujuan efektifitas, kategori-kategori tertentu memperjelas
maksud dan konteks prinsip-prinsip akademik sehingga penyampaian gagasan dalam
tulisan menjadi lebih jelas, akurat dan koheren. Sementara itu, untuk tujuan
inklusivitas, contoh yang paling sahih adalah kategori bidang kajian Kesusastraan yang memiliki subkategori Puisi, Drama, karya Fiksi dan Nonfiksi. Jadi,
kategorisasi membantu mahasiswa merumuskan definisi, membuat ringkasan,
perbandingan dan kontradiksi dalam menyampaikan argumen dan analisis.
Strategi keempat
adalah meringkas. Kegiatan meringkas menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pengalaman
akademik mahasiswa. Sejak menempuh pendidikan di Sekolah Dasar hingga Perguruan
Tinggi, dia berhadapan dengan kegiatan meringkas materi pembelajaran. Kegiatan
ini membantu mempertajam pemahaman dan pikiran kritis, mengasah kreativitas,
dan kemampuan interpretasinya.
Selalu membanding-bandingkan! Itulah strategi
kelima yang bisa digunakan ketika menulis
karya ilmiah. Mahasiswa bisa membandingkan manusia, obyek-obyek,
pengalaman-pengalaman dan kondisi-kondisi. Dia bisa membanding-bandingkan dirinya
sendiri dengan orang lain, situasi sekarang dan dahulu, visi dan misi satu
lembaga pendidikan dengan visi dan misi lembaga lain.
Kegiatan membanding-bandingkan sangat fundamental
dalam membangun pemikiran kritis terutama yang menyangkut kajian komparatif kesusastraan,
agama dan anatomi penulisan karya ilmiah. Membanding-bandingkan disebut juga metode sentral karena dalam
penggunaannya berlaku untuk semua ras manusia, golongan dan pangkat, kebudayaan
dan kondisi kehidupan pada umumnya. Kegiatan membanding-bandingkan tidak hanya
bertujuan untuk menyajikan informasi dari banyak sudut pandang, tetapi juga
merestrukturisasi dan mengevaluasikannya kembali agar menjadi lebih menarik,
terfokus dan saling berhubungan.
Pembahasan di atas tidak ada gunanya apabila
mengabaikan analisis permasalahan yang merupakan strategi terakhir. Alasannya,
analisis terjadi ketika ranah penulisan berhubungan langsung dengan kegiatan mengkaji
dan menginterpretasi topik pembahasan. Kegiatan menulis melibatkan domain analisis
permasalahan dengan cara membanding-bandingkan, mengelompokkan, membuat urutan
pembahasan dan meringkasnya menjadi bagian-bagian yang logis, transparan dan tidak
bertele-tele.
Tetapi analisis permasalahan sepenuhnya
bergantung pada bagaimana mahasiswa membongkar ide-ide yang ada dalam pikirannya
dan mengkomunikasikannya dengan lebih jelas, lugas, terperinci, efektif dan
efisien, dan bagaimana dia berretorika berdasarkan hipotesa tunggal atau bahkan
lebih; menganalisis masalah khusus dari sudut pandangan khusus pula.
C. PROSEDUR-PROSEDUR KHUSUS BAGI MAHASISWA
Selain enam strategi menulis di atas, ada
pula prosedur-prosedur menulis yang perlu dikembangkan secara khusus. Richards & Rodgers (2001) mendefinisikan prosedur sebagai tahap
implementasi ketika mahasiswa menerapkan strategi-strategi menulis.
Prosedur menulis terdiri dari tiga
domain: (a) sumberdaya seperti waktu, ruangan dan kelengkapan lain yang digunakan
ketika menulis, (b) pola-pola interaksi yang dipraktekkan dalam mengungkapkan wacana,
dan (c) taktik-taktik dan strategi-strategi yang seringkali digunakan.
Maggie
(2003) menyebutkan beberapa prosedur menulis antara lain pendekatan proses atau
menulis sebagai suatu proses. Ketika menerapkan prosedur ini, mahasiswa terlibat
dalam menyajikan pendekatan siklus melalui tahap-tahap tertentu dan bukan
pendekatan tunggal yang berhenti pada satu tahapan semata.
Kegiatan-kegiatan
menulis mendorong mahasiswa membuat brainstorming
(strategi menulis yang dilakukan dengan mengelompokkan ide-ide, kata-kata
atau konsep-konsep yang berhubungan dengan topik tulisan), draf, perbaikan,
revisi dan pengeditan. Mengapa mahasiswa harus mengikuti tahap-tahap ini?
Karena menulis sebagai sebuah proses belajar lebih daripada sekadar menciptakan
produk akhir, tetapi mengefektifkan serangkaian keterampilan menulis menuju
pencapaian hasil yang maksimal.
Ada
pula teknik-teknik rekaan atau hasil khayalan yang melibatkan brainstorming. Pada tahap ini, mahasiswa mendaftarkan ide-ide
yang dia pikirkan secara cepat dan tanpa perencanaan terutama yang berkaitan
dengan suatu topik. Jika
belum ada topik tulisan, dia bisa melakukan brainstroming
terhadap permasalahan yang kemudian berujung pada kemunculan topik-topik ringan.
Tidak
hanya berhenti di sini, kegiatan menulis akan lebih efektif apabila mahasiswa membuat
pemetaan kata (word-mapping). Secara
fungsional, pemetaan kata lebih merupakan bentuk visual brainstorming. Mahasiswa memulainya pertama-tama dengan
menulis ide di sudut atas atau di bagian tengah kertas kosong. Kemudian dia menulis
kata-kata di satu lingkaran atau kotak dan mengbubungkannya dengan kata-kata di
lingkaran atau kotak lain melalui anak panah seperti yang tertera di bawah ini:
Word-mapping
merupakan kerangka dasar topik pembahasan tulisan. Dari contoh ini, jelas bahwa
mahasiswa bisa membuat lingkaran lain untuk subelemen membaca, menulis,
berbicara dan menyimak. Kalau semua gagasan tercakupi, barulah dia melangka ke
tahap implementasi yakni deskripsi, penyajian atau uraian tulisan secara utuh berdasarkan
tujuannya mengembangkan pokok pembicaraan.
Bila
tujuan mahasiswa menulis adalah untuk memberi tahu, carilah bentuk penyajian
yang sesuai: esei, studi, ulasan, risalah, laporan, tanya jawab, lukisan. Bila
tujuannya adalah untuk menggerakkan perasaan pembaca, gunakan bentuk yang
sesuai dengan maksud itu: kisah, cerita pendek, novel, roman, drama, lukisan,
sanjak, surat, percakapan, monolog, dan sebagainya (Widyamartaya, 2005).
Terlepas
dari kenyataan ini, menulis cepat alias quick writing
(Maggie, 2003) juga menjadi sebuah pilihan. Mahasiswa melakukannya
dengan mengangkat suatu topik, dan menulis cepat berdasarkan topik tersebut. Dia
menentukan sendiri batas waktu kegiatan menulis (bisa 20-35 menit
untuk satu tulisan)
sebagai tantangan dan kesempatan melatih disiplin diri dalam menuangkan ide-ide.
Kondisi ini beralasan karena menulis adalah kepatuhan, komitmen, konsistensi
dan bahkan keterpaksaan ketika kebutuhan dan keinginan untuk maju dan berubah
tidak terelakkan.
Selama
menulis cepat, sebaiknya kesalahan demi kesalahan dibiarkan. Dengan kata lain,
setiap kesalahan di naskah diabaikan saja. Pokoknya mahasiswa menulis tanpa
henti hingga batas waktu yang disediakan habis. Biarkan ide-ide keluar semua
tanpa memperhitungkan tata bahasa, kosa kata, tanda baca dan ejaan. Setelah semuanya
selesai, dia mengidentifikasi ide-ide utama melalui tanda khusus seperti memberi
tanda dengan stabilo atau menggarisbawahinya. Ide-ide ini digunakan sebagai
draf awal sebuah tulisan.
Pada dasarnya draf awal berfokus pada isi
dan organisasi ide-ide. Dua elemen ini disebut “aspek-aspek makro”. Sedangkan elemen lain seperti tata bahasa, kosa kata, tanda baca dan
ejaan disebut “aspek-aspek mikro” (Ur,
1996).
Elemen-elemen
ini menjadi bagian penting kegiatan evaluasi terutama ketika mahasiswa memberikan
komentar atau perbaikan terhadap tulisannya sendiri (self-edit) atau tulisan
orang lain (Ferris, 2002). Komentar terhadap tulisan lebih
menekankan pentingnya isi dan organisasi ide-ide (aspek-aspek makro) dan bukan melulu tata bahasa, kosa kata,
ejaan dan tanda baca (aspek-aspek
mikro).
Selama
membaca, mengoreksi dan mengedit tulisan sendiri atau tulisan orang lain, mahasiswa
mengikuti proses-proses seperti: (a) berfokus pada bentuk, misalnya, kata, kalimat
dan tanda baca, (b) memerhatikan
kesalahan-kesalahan utama seperti isi tulisan, pertalian ide-ide, logika
berpikir dan susunan kata atau kalimat.
D. PRAKTEK MENULIS SETIAP HARI
Setelah
mengetahui strategi-strategi dan prosedur-prosedur menulis, mahasiswa menyediakan
waktu khusus untuk praktek menulis setiap hari baik melalui portfolio, jurnal
maupun buku harian. Media-media ini digunakan untuk mengungkapkan pengalaman-pengalaman,
ide-ide dan hal-hal yang bersifat umum atau khusus seperti berita-berita aktual
dari banyak sumber. Semuanya menjadi begitu berharga ketika kekuatan pikiran
dan analisis bertumpu pada keakuratan interpretasi isi berita atau isu-isu lain
seputar persoalan-persoalan kemasyarakatan.
Selain
buku harian, kartu indeks bisa digunakan sebagai media untuk praktek menulis. Mengingat
ukuran kartu ini kecil, mau tidak mau mahasiswa belajar “berhemat” dalam
menggunakan kata-kata (the economy of
language).
Agar
latihan menulis tidak membosankan, mengapa tidak mencoba teknik garis kehidupan
atau lifeline (Ur, 1996)? Misalnya, dengan
memasang judul “Pristiwa-peristiwa
Penting dalam Kehidupanku,” mahasiswa menarik garis lurus dengan memberi
tanda titik di sepanjang garis dengan anak panah di ujungnya. Setiap tanda
titik mewakili tahun terjadinya suatu peristiwa dan anak panah menunjukkan
bahwa garis kehidupan berjalan menuju hari esok. Teknik ini juga disebut peta
visual (a visual map) seperti yang
digambarkan berikut ini:
1992 1997 2002 2005 2009
▪
▪ ▪ ▪ ▪
Lahir SD SMP SMA Kuliah
Mahasiswa
menulis berdasarkan detil-detil yang dia gambarkan sendiri pada peta visual
ini. Uniknya, kegiatan menulis dilakukan berdasarkan data-data. Ada pedoman
yang mesti dipatuhi yakni uraian yang tidak boleh melenceng dari informasi
awal, apa adanya.
Pada
kesempatan lain, kalau waktu memungkinkan, mahasiswa membuat laporan buku (a book report).
Meskipun agak membosankan dan menyita banyak waktu, kegiatan menulis mau tidak
mau disesuaikan dengan buku bacaan.
Kalau
tidak cocok dengan praktek yang ini, mahasiswa bisa menulis narasi sambil
mendengarkan musik kesukaannya. Menulis narasi memerlukan gambar-gambar alam
atau manusia dari majalah-majalah atau koran-koran. Kegiatan menulis pun
berpatokan pada deskripsi fisik orang, benda atau binatang yang ada dalam
gambar-gambar. Tentu hal-hal positif yang timbul dari imajinasi dan daya
berpikir perlu diapresiasi.
E. SIMPULAN
Dapat
disimpulkan bahwa menulis merupakan keterampilan produktif yang berhubungan
erat dengan kemampuan dan keterampilan berkomunikasi secara logis, benar dan
sistematis. Dengan demikian, strategi-strategi menulis sangat diperlukan agar
penyampaian gagasan dan komunikasi pesan melalui pokok pembahasan lebih jelas,
tepat, logis dan mudah dipahami.
Semua
strategi menulis yang telah dikemukan di atas bersifat kontekstual, bisa
digunakan sesuai dengan kebutuhan dan keingingan. Tidak ada strategi yang lebih
unggul dan ampuh dari strategi-strategi lainnya. Tetapi mahasiswa bisa menggunakan,
minimal satu di antaranya, melalui latihan dan kegiatan menulis yang dilakukan
secara konsisten, berkelanjutan.
REFERENSI
1. Ferris, Dana. 2002. Teaching Students to
Self-Edit. In Richards, Jack C., and Renandya, Willy A., (Eds.) Methodology in Language Teaching An
Anthology of Current Practice. Cambridge: Cambridge University Press.
3. Karim, M. & Rachmadie, S. 1996. Writing. Jakarta: Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Tenaga
Akademik.
4. Kiniry, M. & Rose, M. 1990. Critical Strategies for Academic Writing.
New York: Bedford Books of St. Martin’s Press.
5. Richards, Jack C. & Rodgers, Theodore
S. 2001. Approaches and Methods in
Language Teaching. Cambridge: Cambridge University Press.
6. Sokolik, Maggie. 2003. Writing. In Nunan, David (Ed.) Practical English Language Teaching. New York:
McGraw Hill.
7. Stott, Rebecca. 2001. Writing with Style. London: Pearson Education Limited.
8. Ur, Penny. 1996. A Course in Language Teaching Practice and
Theory. Cambridge: Cambridge University Press.
9. Widyamartaya, A. 2005. Kreatif Mengarang.
Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Tentang Penulis
Anselmus Sudirman, lahir di Tangkul, Manggarai Timur, Flores, NTT
tanggal 17 Maret 1975. Alumnus Seminari Yohanes Paulus II Labuan Bajo,
Flores (1995) , Novisiat SVD St. Joseph Nenuk Atambua (1997), Pendidikan
Bahasa Inggris Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta (2003),
Magister kajian bahasa Inggris Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
(2007). Sekarang bekerja sebagai dosen di Program Studi Pendidikan
Bahasa Inggris Universitas Sarajanawiyata Tamansiswa Yogyakarta dan
STIKES Jenderal Ahmad Yani Yogyakarta. Pernah bekerja sebagai penerjemah
freelance di PMPK UGM (2009-2010) dan dosen di ASMI St. Maria
Yogyakarta (2002-2007). Tulisannya pernah dimuat di majalah Intisari,
The Jakarta Post Online, Reader's Digest Indonesia, Femina, Educare
(majalah pendidikan KWI), HIDUP, dan Inspirasi.