Tuesday, May 3, 2016

Your letters: Empowering transformative education


Readers Forum | Sat, April 23 2016, 9:50 AM
Readers Forum News
Education mainstreamed into the promulgation of knowledge is of paramount importance. It principally outlines not only a civilization of cultures, principles, values and traditions, but also a representation of knowledgeable minds.

Its intense accessibility is bound up with the delight to put into practice imperative action in societal ties subject to erudition, prowess, consistency and intelligence.

This notion, in essence, works best for transformative education, along with its levels and capabilities to emerge: (1) personal — transformative learning, understanding, belonging and seeking; (2) relational — dialogue, deep engagement and connectivity with and beyond one’s world; (3) institutional — environments, processes and tools for transformation; and (4) global — social action and responsibility, emancipation, sustainability and ecological and spiritual holism (Markos & McWhinney, 2003).

Indubitably, at the personal level, train passengers learning to behave better (The Jakarta Post, April 14), politicians promoting nonviolent campaigns and protesters in a long rally questioning the legal standing of victims of injustice are a collection of a few facts widely known as a democratic voice of transformative behaviors.

In one point, therefore, education for human beings carries special attention about how knowledge is publicly shared as well as transformed into a contextual social sphere, not to mention massive influences of media to criticize disseminated public education policies.

To focus merely on the power of criticism, as it raises its role considerably, would be to disregard “witness to the truth of injustice” (Orbinski in Bloom, 2007), reflecting how most developing nations including Indonesia provide educational opportunities for their citizens amid the victimization of injustice, corruption and a bribery mentality, environmental damage and weakening law enforcement.

For that reason, the absence of governments to figure out problems of public education-related policies presumably results in a series of new problems alike, for example, human rights abuses and marginalized education.

Kompas.com has reported that computerization has been applied in certain regions of Indonesia especially during the national examinations. This progress, however, is not followed by more attempts to add an IT-based approach to the institutional level in which educational authorities should regulate well-planned policies to develop safe and comfortable learning environments, dynamic processes of learning and teaching and the provision of media for transformative learning.

Furthermore, at the global level, systemic curriculum devices and platforms are determined to improve the quality of education and human resources involving knowledge mastery, character building and skills-based transformation.

This is not to deny that transformative education needs to implement a global synergy between social action and responsibility to accommodate flexibility guidelines on how quality-oriented education is developed professionally.

Transformative education is on the right track of mapping out its capabilities to exert programs at the personal, relational, institutional and global levels and, in the end, it retains compatibility, sustainability and quality consistently.

Otherwise, education mismanagement, as it indicates, is unable to change the quality of human resources that, in turn, impacts education competition.

Anselmus Sudirman
Sarjanawiyata Tamansiswa University
Yogyakarta





Thursday, March 20, 2014

PENTINGNYA STRATEGI-STRATEGI MENULIS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS MAHASISWA

MAKALAH


Oleh: Anselmus Sudirman

Abstract 

The purpose of this paper is to discuss extended writing strategies dedicated to generating university students’ awareness of critical thinking and scholarly-related domains of writing tradition. To affirm writing as a means to develop cognitive-exploratory abilities is not to deny that students are challenged to recognize untapped writing strategies: (a) defining, (b) serializing, (c) classifying, (d) summarizing, (e) comparing and (f) analyzing. The embodiment of this dynamic discourse reflects how other viable writing strategies such as brainstorming, word-mapping and quick writing encourage in-depth interpretation, that is, intellectually formulaic and fundamental.  The method intended for completing this paper was qualitative-interpretative that basically included the pedagogical interest of close analysis, use of supporting materials, and logical organization of ideas. The results of this paper contribute something remarkable toward the mastery of writing strategies either for applying strategic arguments in practice, or  academic thinking within persistent writing activities.          
Key words: defining, serializing, classifying, summarizing, comparing, analyzing, brainstorming

A.  PENDAHULUAN
            Menulis merupakan salah satu kegiatan penting dalam kehidupan. Dari hari ke hari kontribusinya sungguh nyata dan positif dalam mengembangkan bakat dan mengasah kemampuan intelektual, daya refleksi dan imajinasi mahasiswa.
            Ikhtiar untuk melakukannya memerlukan aplikasi strategi-strategi mumpuni. Enam di antaranya berhubungan langsung dengan upaya untuk (a) mendefinisikan, (b) membuat urutan cerita, (c) mengelompokkan, (d) meringkas, (e) membandingkan-bandingkan, dan (f) menganalisis setiap pokok permasalahan (Kiniry & Rose, 1990).
            Tanpa menguasai strategi-strategi menulis tersebut, mahasiswa tidak mengetahui teknik-teknik menyampaikan gagasan secara benar, kritis dan sistematis. Akibatnya argumentasi dalam setiap ulasan tulisan disajikan tidak sesuai dengan analisis permasalahan, data pendukung dan pertalian ide-ide yang logis. Padahal argumentasi merupakan kegiatan intelektual yang menekankan proses-proses berpikir induktif dan deduktif atau kombinasi keduannya yang mengiringi upaya mengasah kemampuan menulis secara berkelanjutan.
B. PEMBAHASAN      
Strategi pertama menekankan bahwa mendefinisikan sesuatu bukan merupakan kegiatan mekanik semata dengan mencatat kata dan definisi kata dari kamus, mengingat atau mendokumentasikannya. Tetapi dalam menulis esei atau karya ilmiah, definisi kata secara terperinci sangat diperlukan agar pesan yang ingin disampaikan jelas, akurat dan mudah dipahami.  
Untuk itu, esensi penulisan karya ilmiah tidak terlepas dari upaya membuat klasifikasi istilah di kamus yang dimulai dengan mendaftar kategori kata. Misalnya, ketika mahasiswa mengatakan bahwa soliloqui adalah suatu jenis pidato, maka definisi kata yang dimaksud dibeberkan dari kategori umum ke kategori khusus. Dengan demikian, soliloqui adalah pidato yang disampaikan oleh pemeran tunggal dalam seni teatrikal di atas panggung.
Sesungguhnya menulis definisi kata bisa dilakukan dengan menggunakan contoh-contoh. Misalnya, pernyataan umum “kelenjar adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menghasilkan cairan” kurang tepat karena tidak ada spesifikasi organ tubuh yang mana, dan cairan seperti apa. Maka definisi ini perlu dirumuskan kembali dengan menyebutkan contoh-contoh: “Kelenjar yang kelihatan nyata adalah organ tubuh yang berukuran lebih besar seperti hati dan pankreas. Dua organ ini menghasilkan cairan yang disalurkan ke usus kecil melalui saluran atau pembuluh khusus.”          
Contoh-contoh saja idak cukup! Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah subtopik dari pokok pembahasan. Misalnya, ketika dihadapkan dengan pertanyaan “Apa itu impresionisme?”, mahasiswa mengajukan definisi formal: “Impresionisme mengacu pada gerakan para seniman Prancis tahun 1870-an yang gemar menggunakan eksperimen-eksperimen dalam berkreasi seni melalui efek-efek cahaya.” Subtopik dari definisi ini adalah spesifikasi seniman di zaman itu – Pissaro, Monet, dan Renoir (Stott, 2001). Definisi ini akan lebih terstruktur apabila dilengkapi dengan eksperimen-eksperimen berkesenian dari seniman impresionis yang ada.       
Dari kenyataan ini dapat dikatakan bahwa mendefinisikan sesuatu merupakan proses berkelanjutan yang memerlukan dukungan seperti kegiatan membaca buku-buku referensi dan konsistensi dalam menuangkan gagasan-gagasan. Apabila seorang mahasiswa mendefinisikan nukleus sebuah sel, konteks dan tujuannya tidak lain adalah menjelaskan lokasi pusat sel, perbedaan sel, dan membran yang memisahkannya dari sisa sitoplasma sel.
Dalam mempelajari esei kesusastraan, mahasiswa bisa membuat ringkasan kejadian-kejadian penting dari sebuah novel dan mengikuti definisi-definisi yang berfokus pada aspek-aspek intrinsik atau ekstrinsik untuk kemudian diinterpretasi dan dianalisis secara mendalam. Hal ini beralasan karena setiap definisi menekankan fleksibilitas berdasarkan kegunaan, urgensi dan kompleksitas masalah yang dibahas. Singkat kata, definisi-definisi membentuk cara pandang mahasiswa terhadap rumusan permasalahan.  
Strategi menulis kedua adalah mengurutkan suatu cerita terutama untuk tulisan ekspositori dengan menggunakan ekspresi: “Pertama…, Kemudian…, Lalu…, Akhirnya…yang mewakili urutan-urutan kejadian. Penulis-penulis karya ilmiah menggunakannya ketika menegaskan langkah-langkah prosedural, petunjuk-petunjuk, rentetan-rentetan peristiwa, atau hubungan-hubungan antara satu gagasan dengan gagasan lain, antara penyebab satu masalah dengan penyebab masalah lain. Upaya ini berpatokan pada standar keakuratan, kejelasan, dan ketepatan menggunakan kata-kata yang didukung oleh pemikiran logis dan kritis.   
Strategi menulis ketiga adalah mengelompokkan benda, orang atau binatang berdasarkan kategori-kategori yang berlaku. Misalnya, dari sederetan mobil di tempat parkiran, pengelompokkan dilakukan berdasarkan warna, merek, type, bentuk dan harga. Demikian pula, mahasiswa dikelompokkan berdasarkan kemampuan akademik, minat dan bakat, dan latar belakang kehidupan sosial keluarganya.
Dalam bidang akademik, mahasiswa berusaha membuat kategorisasi yang berangkat dari kategori umum (bidang humaniora) menuju kategori khusus (bahasa dan sastra Indonesia). Mata kuliah di Perguruan Tinggi merupakan contoh kategorisasi (misalnya, Reading) yang kemudian diklasifikasi lagi menjadi subkategori mata kuliah Intensive Reading, dan Extensive Reading pada Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (PBI).  
Keuntungan-keuntungan apa yang bisa dipetik dari kategorisasi? Untuk tujuan efektifitas, kategori-kategori tertentu memperjelas maksud dan konteks prinsip-prinsip akademik sehingga penyampaian gagasan dalam tulisan menjadi lebih jelas, akurat dan koheren. Sementara itu, untuk tujuan inklusivitas, contoh yang paling sahih adalah kategori bidang kajian Kesusastraan yang memiliki subkategori Puisi, Drama, karya Fiksi dan Nonfiksi. Jadi, kategorisasi membantu mahasiswa merumuskan definisi, membuat ringkasan, perbandingan dan kontradiksi dalam menyampaikan argumen dan analisis.
Strategi keempat adalah meringkas. Kegiatan meringkas menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pengalaman akademik mahasiswa. Sejak menempuh pendidikan di Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi, dia berhadapan dengan kegiatan meringkas materi pembelajaran. Kegiatan ini membantu mempertajam pemahaman dan pikiran kritis, mengasah kreativitas, dan kemampuan interpretasinya.
Selalu membanding-bandingkan! Itulah strategi kelima yang bisa digunakan ketika menulis karya ilmiah. Mahasiswa bisa membandingkan manusia, obyek-obyek, pengalaman-pengalaman dan kondisi-kondisi. Dia bisa membanding-bandingkan dirinya sendiri dengan orang lain, situasi sekarang dan dahulu, visi dan misi satu lembaga pendidikan dengan visi dan misi lembaga lain.
Kegiatan membanding-bandingkan sangat fundamental dalam membangun pemikiran kritis terutama yang menyangkut kajian komparatif kesusastraan, agama dan anatomi penulisan karya ilmiah. Membanding-bandingkan disebut juga metode sentral karena dalam penggunaannya berlaku untuk semua ras manusia, golongan dan pangkat, kebudayaan dan kondisi kehidupan pada umumnya. Kegiatan membanding-bandingkan tidak hanya bertujuan untuk menyajikan informasi dari banyak sudut pandang, tetapi juga merestrukturisasi dan mengevaluasikannya kembali agar menjadi lebih menarik, terfokus dan saling berhubungan.
Pembahasan di atas tidak ada gunanya apabila mengabaikan analisis permasalahan yang merupakan strategi terakhir. Alasannya, analisis terjadi ketika ranah penulisan berhubungan langsung dengan kegiatan mengkaji dan menginterpretasi topik pembahasan. Kegiatan menulis melibatkan domain analisis permasalahan dengan cara membanding-bandingkan, mengelompokkan, membuat urutan pembahasan dan meringkasnya menjadi bagian-bagian yang logis, transparan dan tidak bertele-tele.
Tetapi analisis permasalahan sepenuhnya bergantung pada bagaimana mahasiswa membongkar ide-ide yang ada dalam pikirannya dan mengkomunikasikannya dengan lebih jelas, lugas, terperinci, efektif dan efisien, dan bagaimana dia berretorika berdasarkan hipotesa tunggal atau bahkan lebih; menganalisis masalah khusus dari sudut pandangan khusus pula.  
            C. PROSEDUR-PROSEDUR KHUSUS BAGI MAHASISWA
Selain enam strategi menulis di atas, ada pula prosedur-prosedur menulis yang perlu dikembangkan secara khusus. Richards & Rodgers (2001) mendefinisikan prosedur sebagai tahap implementasi ketika mahasiswa menerapkan strategi-strategi menulis.
            Prosedur menulis terdiri dari tiga domain: (a) sumberdaya seperti waktu, ruangan dan kelengkapan lain yang digunakan ketika menulis, (b) pola-pola interaksi yang dipraktekkan dalam mengungkapkan wacana, dan (c) taktik-taktik dan strategi-strategi yang seringkali digunakan.
Maggie (2003) menyebutkan beberapa prosedur menulis antara lain pendekatan proses atau menulis sebagai suatu proses. Ketika menerapkan prosedur ini, mahasiswa terlibat dalam menyajikan pendekatan siklus melalui tahap-tahap tertentu dan bukan pendekatan tunggal yang berhenti pada satu tahapan semata.
Kegiatan-kegiatan menulis mendorong mahasiswa membuat brainstorming (strategi menulis yang dilakukan dengan mengelompokkan ide-ide, kata-kata atau konsep-konsep yang berhubungan dengan topik tulisan), draf, perbaikan, revisi dan pengeditan. Mengapa mahasiswa harus mengikuti tahap-tahap ini? Karena menulis sebagai sebuah proses belajar lebih daripada sekadar menciptakan produk akhir, tetapi mengefektifkan serangkaian keterampilan menulis menuju pencapaian hasil yang maksimal.
Ada pula teknik-teknik rekaan atau hasil khayalan yang melibatkan brainstorming. Pada tahap ini, mahasiswa mendaftarkan ide-ide yang dia pikirkan secara cepat dan tanpa perencanaan terutama yang berkaitan dengan suatu topik. Jika belum ada topik tulisan, dia bisa melakukan brainstroming terhadap permasalahan yang kemudian berujung pada kemunculan topik-topik ringan.
Tidak hanya berhenti di sini, kegiatan menulis akan lebih efektif apabila mahasiswa membuat pemetaan kata (word-mapping). Secara fungsional, pemetaan kata lebih merupakan bentuk visual brainstorming. Mahasiswa memulainya pertama-tama dengan menulis ide di sudut atas atau di bagian tengah kertas kosong. Kemudian dia menulis kata-kata di satu lingkaran atau kotak dan mengbubungkannya dengan kata-kata di lingkaran atau kotak lain melalui anak panah seperti yang tertera di bawah ini:

 
                                                             
            Word-mapping merupakan kerangka dasar topik pembahasan tulisan. Dari contoh ini, jelas bahwa mahasiswa bisa membuat lingkaran lain untuk subelemen membaca, menulis, berbicara dan menyimak. Kalau semua gagasan tercakupi, barulah dia melangka ke tahap implementasi yakni deskripsi, penyajian atau uraian tulisan secara utuh berdasarkan tujuannya mengembangkan pokok pembicaraan.
Bila tujuan mahasiswa menulis adalah untuk memberi tahu, carilah bentuk penyajian yang sesuai: esei, studi, ulasan, risalah, laporan, tanya jawab, lukisan. Bila tujuannya adalah untuk menggerakkan perasaan pembaca, gunakan bentuk yang sesuai dengan maksud itu: kisah, cerita pendek, novel, roman, drama, lukisan, sanjak, surat, percakapan, monolog, dan sebagainya (Widyamartaya, 2005). 
Terlepas dari kenyataan ini, menulis cepat alias quick writing (Maggie, 2003) juga menjadi sebuah pilihan. Mahasiswa melakukannya dengan mengangkat suatu topik, dan menulis cepat berdasarkan topik tersebut. Dia menentukan sendiri batas waktu kegiatan menulis (bisa 20-35 menit untuk satu tulisan) sebagai tantangan dan kesempatan melatih disiplin diri dalam menuangkan ide-ide. Kondisi ini beralasan karena menulis adalah kepatuhan, komitmen, konsistensi dan bahkan keterpaksaan ketika kebutuhan dan keinginan untuk maju dan berubah tidak terelakkan.      
Selama menulis cepat, sebaiknya kesalahan demi kesalahan dibiarkan. Dengan kata lain, setiap kesalahan di naskah diabaikan saja. Pokoknya mahasiswa menulis tanpa henti hingga batas waktu yang disediakan habis. Biarkan ide-ide keluar semua tanpa memperhitungkan tata bahasa, kosa kata, tanda baca dan ejaan. Setelah semuanya selesai, dia mengidentifikasi ide-ide utama melalui tanda khusus seperti memberi tanda dengan stabilo atau menggarisbawahinya. Ide-ide ini digunakan sebagai draf awal sebuah tulisan.    
Pada dasarnya draf awal berfokus pada isi dan organisasi ide-ide. Dua elemen ini disebut aspek-aspek makro. Sedangkan elemen lain seperti tata bahasa, kosa kata, tanda baca dan ejaan disebut “aspek-aspek mikro” (Ur, 1996).
Elemen-elemen ini menjadi bagian penting kegiatan evaluasi terutama ketika mahasiswa memberikan komentar atau perbaikan terhadap tulisannya sendiri (self-edit) atau tulisan orang lain (Ferris, 2002). Komentar terhadap tulisan lebih menekankan pentingnya isi dan organisasi ide-ide (aspek-aspek makro) dan bukan melulu tata bahasa, kosa kata, ejaan dan tanda baca (aspek-aspek mikro).
Selama membaca, mengoreksi dan mengedit tulisan sendiri atau tulisan orang lain, mahasiswa mengikuti proses-proses seperti: (a) berfokus pada bentuk, misalnya, kata, kalimat dan tanda baca, (b)  memerhatikan kesalahan-kesalahan utama seperti isi tulisan, pertalian ide-ide, logika berpikir dan susunan kata atau kalimat. 
D. PRAKTEK MENULIS SETIAP HARI
Setelah mengetahui strategi-strategi dan prosedur-prosedur menulis, mahasiswa menyediakan waktu khusus untuk praktek menulis setiap hari baik melalui portfolio, jurnal maupun buku harian. Media-media ini digunakan untuk mengungkapkan pengalaman-pengalaman, ide-ide dan hal-hal yang bersifat umum atau khusus seperti berita-berita aktual dari banyak sumber. Semuanya menjadi begitu berharga ketika kekuatan pikiran dan analisis bertumpu pada keakuratan interpretasi isi berita atau isu-isu lain seputar persoalan-persoalan kemasyarakatan.
Selain buku harian, kartu indeks bisa digunakan sebagai media untuk praktek menulis. Mengingat ukuran kartu ini kecil, mau tidak mau mahasiswa belajar “berhemat” dalam menggunakan kata-kata (the economy of language).
Agar latihan menulis tidak membosankan, mengapa tidak mencoba teknik garis kehidupan atau lifeline (Ur, 1996)? Misalnya, dengan memasang judul “Pristiwa-peristiwa Penting dalam Kehidupanku,” mahasiswa menarik garis lurus dengan memberi tanda titik di sepanjang garis dengan anak panah di ujungnya. Setiap tanda titik mewakili tahun terjadinya suatu peristiwa dan anak panah menunjukkan bahwa garis kehidupan berjalan menuju hari esok. Teknik ini juga disebut peta visual (a visual map) seperti yang digambarkan berikut ini:
1992               1997              2002                 2005                2009
                       ▪                       ▪                       ▪                       ▪
Lahir              SD                 SMP                SMA                 Kuliah
Mahasiswa menulis berdasarkan detil-detil yang dia gambarkan sendiri pada peta visual ini. Uniknya, kegiatan menulis dilakukan berdasarkan data-data. Ada pedoman yang mesti dipatuhi yakni uraian yang tidak boleh melenceng dari informasi awal, apa adanya.
Pada kesempatan lain, kalau waktu memungkinkan, mahasiswa membuat laporan buku (a book report). Meskipun agak membosankan dan menyita banyak waktu, kegiatan menulis mau tidak mau disesuaikan dengan buku bacaan.
Kalau tidak cocok dengan praktek yang ini, mahasiswa bisa menulis narasi sambil mendengarkan musik kesukaannya. Menulis narasi memerlukan gambar-gambar alam atau manusia dari majalah-majalah atau koran-koran. Kegiatan menulis pun berpatokan pada deskripsi fisik orang, benda atau binatang yang ada dalam gambar-gambar. Tentu hal-hal positif yang timbul dari imajinasi dan daya berpikir perlu diapresiasi.
E.  SIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa menulis merupakan keterampilan produktif yang berhubungan erat dengan kemampuan dan keterampilan berkomunikasi secara logis, benar dan sistematis. Dengan demikian, strategi-strategi menulis sangat diperlukan agar penyampaian gagasan dan komunikasi pesan melalui pokok pembahasan lebih jelas, tepat, logis dan mudah dipahami.
Semua strategi menulis yang telah dikemukan di atas bersifat kontekstual, bisa digunakan sesuai dengan kebutuhan dan keingingan. Tidak ada strategi yang lebih unggul dan ampuh dari strategi-strategi lainnya. Tetapi mahasiswa bisa menggunakan, minimal satu di antaranya, melalui latihan dan kegiatan menulis yang dilakukan secara konsisten, berkelanjutan.

REFERENSI
1.  Ferris, Dana. 2002. Teaching Students to Self-Edit. In Richards, Jack C., and Renandya, Willy A., (Eds.) Methodology in Language Teaching An Anthology of Current Practice. Cambridge: Cambridge University Press.  
3. Karim, M. & Rachmadie, S. 1996. Writing. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Tenaga Akademik.  
4.  Kiniry, M. & Rose, M. 1990. Critical Strategies for Academic Writing. New York: Bedford Books of St. Martin’s Press. 
5.  Richards, Jack C. & Rodgers, Theodore S. 2001. Approaches and Methods in Language Teaching. Cambridge: Cambridge University Press. 
6. Sokolik, Maggie. 2003. Writing. In Nunan, David (Ed.) Practical English Language Teaching. New York:  McGraw Hill.
7.  Stott, Rebecca. 2001. Writing with Style. London: Pearson Education Limited.
8. Ur, Penny. 1996. A Course in Language Teaching Practice and Theory. Cambridge: Cambridge University Press.  
9.  Widyamartaya, A. 2005. Kreatif Mengarang. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. 


            Tentang Penulis

            Anselmus Sudirman, lahir di Tangkul, Manggarai Timur, Flores, NTT tanggal 17 Maret 1975. Alumnus Seminari Yohanes Paulus II Labuan Bajo, Flores (1995) , Novisiat SVD St. Joseph Nenuk Atambua (1997), Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta (2003), Magister kajian bahasa Inggris Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (2007). Sekarang bekerja sebagai dosen di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Sarajanawiyata Tamansiswa Yogyakarta dan STIKES Jenderal Ahmad Yani Yogyakarta. Pernah bekerja sebagai penerjemah freelance di PMPK UGM (2009-2010) dan dosen di ASMI St. Maria Yogyakarta (2002-2007). Tulisannya pernah dimuat di majalah Intisari, The Jakarta Post Online, Reader's Digest Indonesia, Femina, Educare (majalah pendidikan KWI), HIDUP, dan Inspirasi.

Wednesday, March 19, 2014

PAHLAWAN KECIL DARI JALAN MAWAR


CERPEN

Oleh: Anselmus Sudirman

“Hari ulang tahun Rolan hampir tiba,“ aku mulai bercerita. “Seperti biasa Mamanya bertanya padanya mengenai hadiah yang diinginkannya.” 
“Ron,” tanya sang Mama, “apa yang kau inginkan untuk hadiah ulang tahunmu?”
Ia berpikir sebentar dan balik bertanya, “Mama, bolehkah aku membeli sendiri hadiah yang kuinginkan?”   
“Ya, boleh.”
Jawaban ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Rolan memeluk Mamanya dan kemudian melompat kegirangan. 
Siang itu ia langsung pergi ke toko dengan melintasi taman beraneka bunga dimana terdapat banyak bangku taman. Orang-orang sedang duduk mengobrol di sana. Tapi ketika sampai di ujung taman, ia melihat kejadian aneh.  Seorang wanita muda sedang duduk sendirian dan menangis tersedu-sedu.
Dalam sekejap Ron mendekatinya dan bertanya dengan sopan, ”Nona, apa yang membuatmu sedih?”
“Dompetku hilang,” jawab wanita itu. “Seseorang baru saja menyopetnya dariku. Padahal aku harus segera pulang. Ada hal penting yang sedang menungguku.” Ia diam sesaat sebelum melanjutkan, “Sekarang aku tidak bisa pulang. Aku sudah tidak mempunyai uang lagi untuk membayar bis.” 
“Kasihan!” Hati Ron tersentuh dan prihatin ketika melihat wanita itu menangis. “Kalau saja polisi berpatroli dekat sini, pencopet tidak berani membawa kabur uangmu.” 
“Masalahnya aku kecopetan di bis. Aku baru menyadari hal itu ketika turun di depan taman. Ya, rencananya mau pindah ke bis lain. Eh, malah begini jadinya.”
“Sudahlah,” hibur Ron. “Lain kali Nona harus hati-hati.” Ia segera mengambil uang dari dompetnya dan ikhlas memberikannya pada wanita itu.
“Ini uangku,“ kata Ron ramah, “jumlahnya sedikit, tapi kuharap cukup untuk uang bis.”
Mata wanita muda itu berkaca-kaca. Ia terus memandang Rolan seolah tak percaya.
“Ambillah! Nona lebih memerlukannya. Lagi pula aku bersepeda kok. Rumahku tidak terlalu jauh dari sini.”
Ia memeluk Rolan erat-erat dan berkali-kali mengucapkan terimakasih. Sebelum pergi, tak lupa ia menanyakan alamat rumah anak itu.    
Sesampai di rumah, Mamanya bertanya padanya apa yang ia beli sebagai hadiah ulang tahunnya. “Ma, aku tidak beli apa-apa,” jawabnya sambil tersenyum. “Tapi ada kejadian aneh yang kualami hari ini.” 
Ia menceritakannya dari awal. Mamanya mendengarkannya. Tidak demikian dengan kakak-kakaknya. Mereka marah setelah mengetahui bahwa adik mereka memberikan uang pada seorang wanita asing di taman. Mereka menertawai dan mengatai-ngatainya sebagai anak yang tolol dan menghambur-hamburkan uang.  
“Aku kan tidak tega melihat wanita itu, “ kata Rolan memberikan alasan. “Uangnya hilang. Tidak ada yang menolongnya. Ia hanya menangis tersedu-sedu di sudut taman.”
Kakak-kakaknya tetap menunjukkan sikap yang tidak sopan. Seperti biasa Rolan memilih mengalah dan tertunduk tanpa membantah satu kata pun.
“Mengapa kalian mesti marah? Seharusnya kalian senang Rolan menolong orang lain,” kata Mamanya tegas. “Berhentilah bertingkah konyol seperti itu!” 
Hari itu Rolan tidak menghiraukan kakak-kakaknya yang bertingkah. Ia juga tidak peduli hari ulang tahunnya dirayakan tanpa hadiah. Tapi di saat ia merasa tidak memiliki apa-apa, tiba-tiba teman-temannya datang, mengucapkan selamat dan memberinya begitu banyak kado.          
Delapan hari kemudian keluarga Rolan duduk menikmati kue pisang. Tiba-tiba bel pintu gerbang berbunyi. Mamanya bangun, berjalan ke teras depan untuk memastikan siapa yang datang. Dari kejauhan terdengar suara bercakap-cakap. Dan dalam hitungan menit Mamanya masuk lagi. ”Papa, anak-anak,” katanya riang, “ada hal penting yang harus kita dengar. Mari kita ke ruangan tamu, ada yang mau bertemu dengan kita terutama dengan Rolan.”
Mereka semua berdiri dan melangkah ke ruangan tamu. Di kursi sofa dekat jendela Rolan melihat wanita muda yang pernah ditemuinya di taman. Ia ditemani seorang pria tampan dan ramah. Begitu melihat Rolan, ia segera berdiri dari tempat duduknya dan berlari memeluknya.
“Kami datang untuk berterimakasih karena Rolan telah menolong Jenny,” kata pria itu. “Kalau waktu itu Jenny tidak bisa pulang, pernikahan kami dibatalkan. Untungnya, Rolan mau menolongnya.”  
“Terimakasih, Rolan,“ bisik Jenny sambil tetap memeluknya. 
Wajah orang tua Rolan berseri-seri. Sementara kakak-kakaknya merasa malu. Mereka telah mengata-ngatai, menertawai dan mencelanya habis-habisan.
Jenny dan , suaminya membawa berbagai macam hadiah untuk Rolan sebagai tanda terimakasih. Rolan merasa senang. Meskipun demikian, ia tidak lupa berbagi hadiah dengan kakak-kakaknya.
“Rolan, maafkan aku,” kata Lukman, kakak sulungnya. “Aku berjanji. Tidak mau melakukannya lagi.” Hafiz juga memaafkannya. “Sebagai kakak, aku seharusnya tidak boleh bertingkah,“ katanya. “Mulai sekarang, aku tidak mau lagi mengucapkan kata-kata celaan, sindiran dan cemoohan seperti yang pernah kulakukan selama ini.”   
“Akhirnya,“ aku menutup cerita, “setelah semua tetangga mengetahui kejadian itu, mereka memanggil Rolan dengan julukan – pahlawan kecil dari jalan mawar – sesuai dengan nama jalan kecil tempat mereka tinggal. Mereka yakin masih banyak pahlawan kecil dari jalan-jalan lain di kota mereka, bahkan di kota-kota lain di seluruh dunia.”

THE CAMPUS-BASED BUSINESS


OPINION
By Anselmus Sudirman*

Direct sales for gadgets, electronic pulses and souvenirs, stationery and books, clothes and foods are a few examples of campus-based business. This way of earning money, as at its base, has an implication in terms of a business opportunity for university students to carry on. By fostering it, they attempt to help their parents cope with bills for tuition and living costs.
This assertion is not to be absurdly naïve. For business activities have a direct contribution to economy, it does not mean that the economic value is the only thing that counts. For whatever reason it is, likewise, two main points can be considered. First, by principle, campus-based business has become an integral part of academic life in which business-consciousness is positively encouraged. Second, unwavering efforts are directed at advancing business spirit, not to mention the business momentum to work through.
By that context, it seems reasonable that each campus-based business is viable. Even though it is possibly susceptible to stagnation in practice, as witnessed by different challenges, types of competitive products and insufficient knowledge on selling strategies, its viability works in tandem with university students’ hard efforts for money-earning opportunities.
In these days, however, a business inspiration is merely restricted to the similar selling of products and banalities of their types. If all facts share this characteristic, a university student salesperson, for example, is ripe for a new breakthrough. And it follows that a strategic management, if definitely useful, can help increase sales by including assorted products and their affordable prices.
Of course, the selling products are geared to involving more university students who pre-eminently appreciate the need for wage-earning activities. Inversely, in light of heavy academic workloads, they are willing to run small, independent business as a part-time job. For one thing, indeed, their main business is to study, to outperform academically; not to be lacking in every class work.
University students having firm commitments to study and to run a part-time business successfully deserve “double life” values in that they are not only eager to learn something from selling activities, but also take a good advantage of every business opportunity arising without being encumbered with essential class assignments to prioritize. It is somewhat urgent for them to understand that today’s business lesson develops into tomorrow’s invaluable profits in whatever professions they will take.
There is no doubt that universities or colleges across the country are obliged to provide far greater business opportunities for their students. The new emphasis on the business education is strongly regulated in the curriculum.  Above all, it has interrelated attributes to what is so-called “entrepreneurship” – a term under which the name of a core or selective course in today’s higher education institutions might refer to.   
This is hopefully inherent for university students to realize that campus-based business as such reflects the true heart of human character in learning, socializing, communicating, and transacting. In this attention to the human dimension lies the key for information flow, teamwork, and leadership alike.   
The writer is a lecturer of English Education Department at Sarjanawiyata Tamansiswa University, Yogyakarta City, Indonesia.