Oleh: Anselmus Sudirman*
Menulis merupakan salah satu
kegiatan penting dalam kehidupan. Dari hari ke hari kontribusinya sungguh nyata
dan positif dalam mengembangkan bakat dan mengasah kemampuan intelektual, daya
refleksi dan imajinasi kita.
Ikhtiar untuk melakukannya memerlukan
aplikasi strategi-strategi mumpuni. Enam di antaranya berhubungan langsung
dengan upaya untuk (a) mendefinisikan, (b) membuat urutan cerita, (c)
mengelompokkan, (d) meringkas, (e) membandingkan-bandingkan, dan (f)
menganalisis setiap pokok permasalahan (Kiniry & Rose, 1990).
Dari strategi pertama kita mengetahui bahwa mendefinisikan sesuatu bukan
merupakan kegiatan mekanik semata dengan mencatat kata dan definisinya dari
kamus, mengingat atau mendokumentasikannya. Tetapi dalam menulis esei atau
karya ilmiah, kita mendalami definisi kata secara terperinci agar pesan yang
ingin kita sampaikan jelas, akurat dan mudah dipahami.
Untuk itu, kita jangan sampai lupa membuat
klasifikasi istilah di kamus yang dimulai dengan mendaftar kategori kata. Misalnya,
ketika kita mengatakan bahwa soliloqui adalah suatu jenis pidato, seyogianya kita
membuat sebuah definisi yang dibeberkan dari kategori umum ke kategori khusus.
Dengan demikian, soliloqui adalah pidato yang disampaikan oleh pemeran tunggal dalam
seni teatrikal di atas panggung.
Ketika menulis definisi kata, kita bisa menggunakan
contoh-contoh. Pernyataan umum “kelenjar adalah organ tubuh yang berfungsi
untuk menghasilkan cairan” kurang tepat karena tidak ada spesifikasi organ
tubuh yang mana, dan cairan seperti apa. Maka definisi ini perlu dirumuskan kembali
dengan menyebutkan contoh-contoh: “Kelenjar yang kelihatan nyata adalah organ
tubuh yang berukuran lebih besar seperti hati dan pankreas. Dua organ ini
menghasilkan cairan yang disalurkan ke usus kecil melalui saluran atau pembuluh
khusus.”
Contoh-contoh saja idak cukup! Kita memerlukan
sub topik dari pokok pembahasan. Misalnya, ketika dihadapkan dengan pertanyaan
“Apa itu impresionisme?”, kita mengajukan definisi formal: “Impresionisme
mengacu pada gerakan para seniman Prancis tahun 1870-an yang gemar menggunakan
eksperimen-eksperimen dalam berkreasi seni melalui efek-efek cahaya.” Sub topik
dari definisi ini yang harus kita tambahkan adalah spesifikasi seniman di zaman
itu – Pissaro, Monet, dan Renoir (Stott, 2001). Definisi ini akan lebih
terstruktur apabila kita menyertakan eksperimen-eksperimen berkesenian dari
setiap seniman empresionis yang ada.
Dari kenyataan ini dapat dikatakan bahwa mendefinisikan
sesuatu merupakan proses berkelanjutan yang memerlukan dukungan seperti kegiatan
membaca buku-buku referensi dan konsistensi dalam menuangkan gagasan-gagasan.
Apabila kita mendefinisikan nukleus sebuah sel, konteks dan tujuan kita tidak
lain adalah menjelaskan lokasi pusat sel, perbedaan sel, dan membran yang
memisahkannya dari sisa sitoplasma sel.
Dalam esei kesusastraan, kita bisa membuat
ringkasan kejadian-kejadian penting dari sebuah novel dan mengikuti
definisi-definisi yang berfokus pada aspek-aspek intrinsik atau ekstrinsik
untuk kemudian diinterpretasi dan dianalisis secara mendalam. Hal ini beralasan
karena setiap definisi menekankan fleksibilitas berdasarkan kegunaan, urgensi
dan kompleksitas masalah yang dibahas. Singkat kata, definisi-definisi yang
kita kembangkan membentuk cara pandang kita terhadap rumusan permasalahan.
Strategi menulis kedua adalah mengurutkan suatu cerita terutama untuk tulisan
ekspositori dengan menggunakan ekspresi: “Pertama…,
Kemudian…, Lalu…, Akhirnya…yang mewakili urutan-urutan kejadian. Penulis-penulis
karya ilmiah menggunakannya ketika menegaskan langkah-langkah prosedural, petunjuk-petunjuk,
rentetan-rentetan peristiwa, atau hubungan-hubungan antara satu gagasan dengan
gagasan lain, antara penyebab satu masalah dengan penyebab masalah lain. Upaya
ini berpatokan pada standar keakuratan, kejelasan, dan ketepatan menggunakan
kata-kata yang didukung oleh pemikiran logis dan kritis.
Yang kita pelajari dari strategi ketiga adalah pengelompokkan benda,
orang atau binatang berdasarkan kategori-kategori yang berlaku. Misalnya, dari
sederetan mobil di tempat parkiran, kita bisa mengelompokkan berdasarkan warna,
merek, type, bentuk dan harga. Demikian pula, kita bisa mengelompokkan
mahasiswa berdasarkan kemampuan akademik, minat dan bakat, dan latar belakang
kehidupan sosial.
Dalam bidang akademik, kita membuat
kategorisasi yang berangkat dari kategori umum (bidang humaniora) menuju kategori
khusus (bahasa dan sastra Indonesia). Mata kuliah di Perguruan Tinggi merupakan
contoh kategori (misalnya, Reading)
yang kemudian diklasifikasi lagi menjadi sub kategori mata kuliah Intensive Reading, dan Extensive Reading.
Keuntungan-keuntungan apa yang kita peroleh
dari kategorisasi? Untuk tujuan efektifitas, kategori-kategori tertentu
memperjelas maksud dan konteks prinsip-prinsip akademik sehingga penyampaian
gagasan dalam tulisan kita jelas, akurat dan koheren. Sementara itu, untuk
tujuan inklusivitas, kita diuntungkan dengan kategori bidang kajian Kesusastraan yang memiliki sub kategori Puisi, Drama, karya Fiksi dan Nonfiksi. Jadi,
kategorisasi membantu kita merumuskan definisi, membuat ringkasan, perbandingan
dan kontradiksi, menyampaikan argumen dan analisis.
Strategi keempat
adalah meringkas. Kegiatan meringkas menjadi bagian yang tak terpisahkan dari
pengalaman akademik kita. Sejak menempuh pendidikan di Sekolah Dasar hingga
Perguruan Tinggi, kita selalu berhadapan dengan kegiatan meringkas materi
pembelajaran. Tanpa kita sadari, kegiatan ini membantu mempertajam pemahaman
dan pikiran kritis, mengasah kreativitas, dan kemampuan interpretasi kita. Hal
yang sama bisa kita lakukan ketika menulis sebuah karya ilmiah.
Selalu membanding-bandingkan! Itulah strategi
kelima yang kita gunakan ketika menulis.
Kita bisa membandingkan manusia, obyek-obyek, pengalaman-pengalaman dan
kondisi-kondisi. Kita membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain,
situasi sekarang dan dahulu, visi dan misi satu lembaga pendidikan dengan visi
dan misi lembaga lain.
Kegiatan membanding-bandingkan sangat fundamental
dalam membangun pemikiran kritis terutama yang menyangkut kajian komparatif kesusastraan,
agama dan anatomi penulisan karya ilmiah. Membanding-bandingkan disebut juga metode sentral karena dalam
penggunaannya berlaku untuk semua ras manusia, golongan dan pangkat, kebudayaan
dan kondisi kehidupan pada umumnya. Kegiatan membanding-bandingkan tidak hanya
bertujuan untuk menyajikan informasi dari banyak sudut pandang, tetapi juga
merestrukturisasi dan mengevaluasikannya kembali agar menjadi lebih menarik,
terfokus dan saling berhubungan.
Setelah mengikuti pembahasan di atas, sampailah
kita pada tataran analisis permasalahan yang merupakan strategi terakhir.
Alasannya, analisis terjadi ketika kita mengkaji dan menginterpretasi topik
pembahasan dalam setiap tulisan. Kita menulis secara analitis apabila kita
telah menganalisis masalah dengan benar dengan cara membanding-bandingkan, mengelompokkan,
membuat urutan pembahasan dan meringkasnya menjadi bagian-bagian yang logis, transparan
dan tidak bertele-tele.
Tetapi analisis kita sepenuhnya bergantung
pada bagaimana kita membongkar ide-ide yang ada dalam pikiran kita dan mengkomunikasikannya
dengan lebih jelas, lugas, terperinci, efektif dan efisien, dan bagaimana kita
berretorika berdasarkan hipotesa tunggal atau bahkan lebih. Kita menganalisis
masalah khusus dari sudut pandangan khusus pula.
Prosedur-prosedur Khusus
Kita tidak hanya mengenal enam
strategi menulis, tetapi juga prosedur-prosedur pengembangannya secara khusus. Richards & Rodgers (2001) mendefinisikan prosedur sebagai tahap
implementasi ketika kita menerapkan strategi-strategi menulis.
Prosedur menulis terdiri dari tiga
domain: (a) sumberdaya seperti waktu, ruangan dan kelengkapan lain yang kita
gunakan ketika menulis, (b) pola-pola interaksi yang dipraktekkan dalam mengungkapkan
wacana, dan (c) taktik-taktik dan strategi-strategi yang seringkali kita gunakan.
Maggie
(2003) menyebutkan beberapa prosedur menulis antara lain pendekatan proses atau
menulis sebagai suatu proses. Ketika menerapkan prosedur ini, kita terlibat
dalam menyajikan pendekatan siklus melalui tahap-tahap tertentu dan bukan pendekatan
tunggal yang berhenti pada satu tahap semata.
Kegiatan-kegiatan
menulis mendorong kita untuk membuat brainstorming
(strategi menulis yang dilakukan dengan mengelompokkan ide-ide, kata-kata
atau konsep-konsep yang berhubungan dengan topik tulisan), draf, masukan,
revisi dan pengeditan. Mengapa kita harus mengikuti tahap-tahap ini? Karena menulis
sebagai sebuah proses belajar lebih daripada sekadar menciptakan produk akhir,
tetapi mengefektifkan serangkaian keterampilan menulis menuju pencapaian hasil yang
maksimal.
Ada
pula teknik-teknik rekaan atau hasil khayalan yang melibatkan brainstorming. Pada tahap ini, kita mendaftarkan ide-ide yang kita
pikirkan secara cepat dan tanpa perencanaan terutama yang berkaitan dengan
suatu topik. Jika belum ada topik yang ingin
kita bahas, kita berusaha untuk melakukan brainstroming
terhadap topik-topik ringan dan mengembangkannya.
Tidak
hanya berhenti di sini, kegiatan menulis akan lebih efektif apabila kita
membuat pemetaan kata (word-mapping).
Secara fungsional, pemetaan kata lebih merupakan bentuk visual brainstorming. Kita memulainya pertama-tama dengan menulis
ide di sudut atas atau di bagian tengah kertas kosong. Kemudian kita menulis
kata-kata di satu lingkaran atau kotak dan mengbubungkannya dengan kata-kata di
lingkaran atau kotak lain melalui anak panah seperti yang tertera di bawah ini:
Word-mapping
merupakan kerangka dasar topik pembahasan tulisan. Dari contoh ini, jelas bahwa
kita bisa membuat lingkaran lain untuk sub elemen membaca, menulis, berbicara
dan menyimak. Kalau semua gagasan tercakupi, barulah kita melangka ke tahap
implementasi yakni deskripsi, penyajian atau uraian tulisan secara utuh berdasarkan
tujuan kita mengembangkan pokok pembicaraan.
Bila
tujuan kita menulis adalah untuk memberi tahu, carilah bentuk penyajian yang
sesuai: esei, studi, ulasan, risalah, laporan, tanya jawab, lukisan. Bila
tujuan kita adalah untuk menggerakkan perasaan pembaca, gunakan bentuk yang
sesuai dengan maksud itu: kisah, cerita pendek, novel, roman, drama, lukisan,
sanjak, surat, percakapan, monolog, dan sebagainya (Widyamartaya, 2005).
Terlepas
dari kenyataan ini, menulis cepat alias quickwriting (Maggie, 2003) juga menjadi sebuah pilihan. Kita melakukannya
dengan mengangkat suatu topik, dan menulis cepat berdasarkan topik tersebut.
Kita menentukan sendiri batas waktu yang kita inginkan (bisa 20-35 menit
untuk satu tulisan)
sebagai tantangan dan kesempatan untuk melatih disiplin diri dalam menuangkan ide.
Meskipun terkadang hukum yang berlaku ketika kita menulis adalah kepatuhan,
komitmen, konsistensi dan bahkan keterpaksaan karena kebutuhan dan keinginan
untuk maju dan berubah.
Selama
menulis cepat, kita kadang-kadang membuat kesalahan dan sebaiknya kita tidak usah
mencoretnya. Setiap kesalahan di naskah diabaikan saja. Kita dituntut untuk
menulis tanpa henti hingga batas waktu yang disediakan habis. Biarkan ide-ide
keluar semua tanpa memperhitungkan tata bahasa, kosa kata, tanda baca dan
ejaan. Setelah semuanya selesai, kita mengidentifikasi ide-ide utama melalui
tanda khusus seperti memberi tanda dengan stabilo atau menggarisbawahinya.
Ide-ide ini digunakan sebagai draf awal sebuah tulisan.
Setelah itu, kita mulai menulis draf awal dengan
berkosentrasi pada isi dan organisasi ide-ide. Dua elemen ini
disebut “aspek-aspek makro”. Sedangkan elemen lain seperti tata bahasa, kosa kata, tanda baca dan
ejaan disebut “aspek-aspek mikro” (Ur,
1996).
Elemen-elemen
ini menjadi bagian penting kegiatan evaluasi terutama ketika kita memberikan
komentar atau perbaikan terhadap tulisan sendiri (self-edit) ala Ferris (2002) atau tulisan orang lain. Komentar kita lebih menekankan
pentingnya isi dan organisasi ide-ide (aspek-aspek
makro) dan bukan tata
bahasa, kosa kata, ejaan dan tanda baca (aspek-aspek
mikro).
Selama
membaca, mengoreksi dan mengedit tulisan sendiri atau tulisan orang lain, kita
mengikuti proses-proses seperti: (a) berfokus pada bentuk, misalnya, kata dan
kalimat dan tanda baca, (b) memerhatikan
kesalahan-kesalahan utama seperti isi tulisan, pertalian ide-ide, logika
berpikir dan susunan kata atau kalimat.
Praktek
Menulis
Setelah
mengetahui strategi-strategi dan prosedur-prosedur menulis, kita menyediakan
waktu khusus untuk praktek menulis setiap hari. Kita bisa memulainya dengan
mengisi buku harian. Kita tidak perlu mengungkapkan perasaan-perasaan atau
hal-hal yang bersifat pribadi dalam buku harian kita. Kita bisa mengutip berita-berita
aktual dan ide-ide dari banyak sumber. Tugas kita selanjutnya adalah belajar menganalisis dan menginterpretasi isi
berita atau isu-isu lain seputar persoalan-persoalan kemasyarakatan.
Selain
buku harian, kita juga menggunakan kartu indeks sebagai media untuk praktek menulis.
Mengingat ukuran kartu ini kecil, mau tidak mau kita belajar untuk “berhemat”
dalam menggunakan kata-kata (the economy
of language).
Agar
latihan menulis tidak membosankan, kita menggunakan teknik garis kehidupan atau
lifeline (Ur, 1996). Dengan memasang
judul “Pristiwa-peristiwa Penting dalam
Kehidupanku,” kita menarik garis lurus dengan memberi tanda titik di
sepanjang garis dengan anak panah di ujungnya. Setiap tanda titik mewakili tahun
terjadinya suatu peristiwa dan anak panah menunjukkan bahwa kita berjalan
menuju hari esok. Teknik ini juga disebut peta visual (a visual map) seperti yang digambarkan berikut ini:
1992 1997 2002 2005 2009
▪
▪ ▪ ▪ ▪
Lahir SD SMP SMA Kuliah
Kita
menulis berdasarkan detil-detil yang kita gambarkan sendiri pada peta visual
ini. Uniknya, kita menulis berdasarkan data-data. Ada pedoman yang mesti kita
patuhi yakni uraian yang tidak boleh melenceng dari informasi awal, apa adanya.
Pada
kesempatan lain, kalau waktu memungkinkan, kita membuat laporan buku (a book report).
Meskipun agak membosankan dan menyita banyak waktu, kita menulis berdasarkan
buku yang telah kita baca. Setidaknya kita tidak hanya membaca, tetapi mengupas
isinya secara tuntas dengan cara menulis laporan.
Kalau
tidak cocok dengan praktek yang ini, mengapa kita tidak memilih untuk menulis
narasi sambil mendengarkan musik kesukaan kita. Kita boleh menggunakan
gambar-gambar dari majalah-majalah atau koran-koran. Tulisan kita mengacu pada
deskripsi fisik orang, benda atau binatang yang ada dalam gambar-gambar. Tentu
kita berhak untuk menambahkan hal-hal positif yang timbul dari imajinasi dan
daya berpikir yang lebih dalam dan kuat.
Kesimpulan
Dapat
disimpulkan bahwa menulis merupakan keterampilan produktif yang berhubungan
erat dengan kemampuan dan keterampilan berkomunikasi secara logis, benar dan
sistematis. Dengan demikian, strategi-strategi menulis sangat diperlukan agar
penyampaian komunikasi dan pesan melalui pokok pembahasan lebih jelas, tepat,
logis dan mudah dipahami.
Semua
strategi menulis yang telah kita pelajari bersifat kontekstual, bisa digunakan
sesuai dengan kebutuhan dan keingingan masing-masing. Tidak ada strategi yang
lebih unggul dan ampuh dari strategi-strategi lainnya. Tetapi kita bisa menggunakan,
minimal satu di antaranya, melalui latihan dan kegiatan menulis yang dilakukan
secara konsisten dan berkelanjutan.
Semoga!
Referensi
1. Ferris, Dana. 2002. Teaching Students to
Self-Edit. In Richards, Jack C., and Renandya, Willy A., (Eds.) Methodology in Language Teaching An
Anthology of Current Practice. Cambridge: Cambridge University Press.
3. Karim, M. & Rachmadie, S. 1996. Writing. Jakarta: Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Tenaga
Akademik.
4. Kiniry, M. & Rose, M. 1990. Critical Strategies for Academic Writing.
New York: Bedford Books of St. Martin’s Press.
5. Richards, Jack C. & Rodgers,
Theodore S. 2001. Approaches and Methods
in Language Teaching. Cambridge: Cambridge University Press.
6. Sokolik, Maggie. 2003. Writing. In Nunan, David (Ed.) Practical English Language Teaching. New York:
McGraw Hill.
7.
Stott, Rebecca. 2001. Writing with
Style. London: Pearson Education Limited.
8. Ur,
Penny. 1996. A Course in Language
Teaching Practice and Theory. Cambridge: Cambridge University Press.
9.
Widyamartaya, A. 2005. Kreatif
Mengarang. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
*Dosen Universitas
Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta; Pengampu Mata Kuliah Writing dan Structure.
No comments:
Post a Comment