Wednesday, March 5, 2014

OPTIMALISASI STRATEGI-STRATEGI MENULIS


Oleh: Anselmus Sudirman*

            Menulis merupakan salah satu kegiatan penting dalam kehidupan. Dari hari ke hari kontribusinya sungguh nyata dan positif dalam mengembangkan bakat dan mengasah kemampuan intelektual, daya refleksi dan imajinasi kita.
            Ikhtiar untuk melakukannya memerlukan aplikasi strategi-strategi mumpuni. Enam di antaranya berhubungan langsung dengan upaya untuk (a) mendefinisikan, (b) membuat urutan cerita, (c) mengelompokkan, (d) meringkas, (e) membandingkan-bandingkan, dan (f) menganalisis setiap pokok permasalahan (Kiniry & Rose, 1990).
Dari strategi pertama kita mengetahui bahwa mendefinisikan sesuatu bukan merupakan kegiatan mekanik semata dengan mencatat kata dan definisinya dari kamus, mengingat atau mendokumentasikannya. Tetapi dalam menulis esei atau karya ilmiah, kita mendalami definisi kata secara terperinci agar pesan yang ingin kita sampaikan jelas, akurat dan mudah dipahami.  
Untuk itu, kita jangan sampai lupa membuat klasifikasi istilah di kamus yang dimulai dengan mendaftar kategori kata. Misalnya, ketika kita mengatakan bahwa soliloqui adalah suatu jenis pidato, seyogianya kita membuat sebuah definisi yang dibeberkan dari kategori umum ke kategori khusus. Dengan demikian, soliloqui adalah pidato yang disampaikan oleh pemeran tunggal dalam seni teatrikal di atas panggung.
Ketika menulis definisi kata, kita bisa menggunakan contoh-contoh. Pernyataan umum “kelenjar adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menghasilkan cairan” kurang tepat karena tidak ada spesifikasi organ tubuh yang mana, dan cairan seperti apa. Maka definisi ini perlu dirumuskan kembali dengan menyebutkan contoh-contoh: “Kelenjar yang kelihatan nyata adalah organ tubuh yang berukuran lebih besar seperti hati dan pankreas. Dua organ ini menghasilkan cairan yang disalurkan ke usus kecil melalui saluran atau pembuluh khusus.”          
Contoh-contoh saja idak cukup! Kita memerlukan sub topik dari pokok pembahasan. Misalnya, ketika dihadapkan dengan pertanyaan “Apa itu impresionisme?”, kita mengajukan definisi formal: “Impresionisme mengacu pada gerakan para seniman Prancis tahun 1870-an yang gemar menggunakan eksperimen-eksperimen dalam berkreasi seni melalui efek-efek cahaya.” Sub topik dari definisi ini yang harus kita tambahkan adalah spesifikasi seniman di zaman itu – Pissaro, Monet, dan Renoir (Stott, 2001). Definisi ini akan lebih terstruktur apabila kita menyertakan eksperimen-eksperimen berkesenian dari setiap seniman empresionis yang ada.       
Dari kenyataan ini dapat dikatakan bahwa mendefinisikan sesuatu merupakan proses berkelanjutan yang memerlukan dukungan seperti kegiatan membaca buku-buku referensi dan konsistensi dalam menuangkan gagasan-gagasan. Apabila kita mendefinisikan nukleus sebuah sel, konteks dan tujuan kita tidak lain adalah menjelaskan lokasi pusat sel, perbedaan sel, dan membran yang memisahkannya dari sisa sitoplasma sel.
Dalam esei kesusastraan, kita bisa membuat ringkasan kejadian-kejadian penting dari sebuah novel dan mengikuti definisi-definisi yang berfokus pada aspek-aspek intrinsik atau ekstrinsik untuk kemudian diinterpretasi dan dianalisis secara mendalam. Hal ini beralasan karena setiap definisi menekankan fleksibilitas berdasarkan kegunaan, urgensi dan kompleksitas masalah yang dibahas. Singkat kata, definisi-definisi yang kita kembangkan membentuk cara pandang kita terhadap rumusan permasalahan.  
Strategi menulis kedua adalah mengurutkan suatu cerita terutama untuk tulisan ekspositori dengan menggunakan ekspresi: “Pertama…, Kemudian…, Lalu…, Akhirnya…yang mewakili urutan-urutan kejadian. Penulis-penulis karya ilmiah menggunakannya ketika menegaskan langkah-langkah prosedural, petunjuk-petunjuk, rentetan-rentetan peristiwa, atau hubungan-hubungan antara satu gagasan dengan gagasan lain, antara penyebab satu masalah dengan penyebab masalah lain. Upaya ini berpatokan pada standar keakuratan, kejelasan, dan ketepatan menggunakan kata-kata yang didukung oleh pemikiran logis dan kritis.   
Yang kita pelajari dari strategi ketiga adalah pengelompokkan benda, orang atau binatang berdasarkan kategori-kategori yang berlaku. Misalnya, dari sederetan mobil di tempat parkiran, kita bisa mengelompokkan berdasarkan warna, merek, type, bentuk dan harga. Demikian pula, kita bisa mengelompokkan mahasiswa berdasarkan kemampuan akademik, minat dan bakat, dan latar belakang kehidupan sosial.
Dalam bidang akademik, kita membuat kategorisasi yang berangkat dari kategori umum (bidang humaniora) menuju kategori khusus (bahasa dan sastra Indonesia). Mata kuliah di Perguruan Tinggi merupakan contoh kategori (misalnya, Reading) yang kemudian diklasifikasi lagi menjadi sub kategori mata kuliah Intensive Reading, dan Extensive Reading.
Keuntungan-keuntungan apa yang kita peroleh dari kategorisasi? Untuk tujuan efektifitas, kategori-kategori tertentu memperjelas maksud dan konteks prinsip-prinsip akademik sehingga penyampaian gagasan dalam tulisan kita jelas, akurat dan koheren. Sementara itu, untuk tujuan inklusivitas, kita diuntungkan dengan kategori bidang kajian Kesusastraan yang memiliki sub kategori Puisi, Drama, karya Fiksi dan Nonfiksi. Jadi, kategorisasi membantu kita merumuskan definisi, membuat ringkasan, perbandingan dan kontradiksi, menyampaikan argumen dan analisis.
Strategi keempat adalah meringkas. Kegiatan meringkas menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pengalaman akademik kita. Sejak menempuh pendidikan di Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi, kita selalu berhadapan dengan kegiatan meringkas materi pembelajaran. Tanpa kita sadari, kegiatan ini membantu mempertajam pemahaman dan pikiran kritis, mengasah kreativitas, dan kemampuan interpretasi kita. Hal yang sama bisa kita lakukan ketika menulis sebuah karya ilmiah.
Selalu membanding-bandingkan! Itulah strategi kelima yang kita gunakan ketika menulis. Kita bisa membandingkan manusia, obyek-obyek, pengalaman-pengalaman dan kondisi-kondisi. Kita membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, situasi sekarang dan dahulu, visi dan misi satu lembaga pendidikan dengan visi dan misi lembaga lain.
Kegiatan membanding-bandingkan sangat fundamental dalam membangun pemikiran kritis terutama yang menyangkut kajian komparatif kesusastraan, agama dan anatomi penulisan karya ilmiah. Membanding-bandingkan disebut juga metode sentral karena dalam penggunaannya berlaku untuk semua ras manusia, golongan dan pangkat, kebudayaan dan kondisi kehidupan pada umumnya. Kegiatan membanding-bandingkan tidak hanya bertujuan untuk menyajikan informasi dari banyak sudut pandang, tetapi juga merestrukturisasi dan mengevaluasikannya kembali agar menjadi lebih menarik, terfokus dan saling berhubungan.
Setelah mengikuti pembahasan di atas, sampailah kita pada tataran analisis permasalahan yang merupakan strategi terakhir. Alasannya, analisis terjadi ketika kita mengkaji dan menginterpretasi topik pembahasan dalam setiap tulisan. Kita menulis secara analitis apabila kita telah menganalisis masalah dengan benar dengan cara membanding-bandingkan, mengelompokkan, membuat urutan pembahasan dan meringkasnya menjadi bagian-bagian yang logis, transparan dan tidak bertele-tele.
Tetapi analisis kita sepenuhnya bergantung pada bagaimana kita membongkar ide-ide yang ada dalam pikiran kita dan mengkomunikasikannya dengan lebih jelas, lugas, terperinci, efektif dan efisien, dan bagaimana kita berretorika berdasarkan hipotesa tunggal atau bahkan lebih. Kita menganalisis masalah khusus dari sudut pandangan khusus pula.  
Prosedur-prosedur Khusus
            Kita tidak hanya mengenal enam strategi menulis, tetapi juga prosedur-prosedur pengembangannya secara khusus. Richards & Rodgers (2001) mendefinisikan prosedur sebagai tahap implementasi ketika kita menerapkan strategi-strategi menulis.
            Prosedur menulis terdiri dari tiga domain: (a) sumberdaya seperti waktu, ruangan dan kelengkapan lain yang kita gunakan ketika menulis, (b) pola-pola interaksi yang dipraktekkan dalam mengungkapkan wacana, dan (c) taktik-taktik dan strategi-strategi yang seringkali kita gunakan.
Maggie (2003) menyebutkan beberapa prosedur menulis antara lain pendekatan proses atau menulis sebagai suatu proses. Ketika menerapkan prosedur ini, kita terlibat dalam menyajikan pendekatan siklus melalui tahap-tahap tertentu dan bukan pendekatan tunggal yang berhenti pada satu tahap semata.
Kegiatan-kegiatan menulis mendorong kita untuk membuat brainstorming (strategi menulis yang dilakukan dengan mengelompokkan ide-ide, kata-kata atau konsep-konsep yang berhubungan dengan topik tulisan), draf, masukan, revisi dan pengeditan. Mengapa kita harus mengikuti tahap-tahap ini? Karena menulis sebagai sebuah proses belajar lebih daripada sekadar menciptakan produk akhir, tetapi mengefektifkan serangkaian keterampilan menulis menuju pencapaian hasil yang maksimal.
Ada pula teknik-teknik rekaan atau hasil khayalan yang melibatkan brainstorming. Pada tahap ini, kita mendaftarkan ide-ide yang kita pikirkan secara cepat dan tanpa perencanaan terutama yang berkaitan dengan suatu topik. Jika belum ada topik yang ingin kita bahas, kita berusaha untuk melakukan brainstroming terhadap topik-topik ringan dan mengembangkannya.
Tidak hanya berhenti di sini, kegiatan menulis akan lebih efektif apabila kita membuat pemetaan kata (word-mapping). Secara fungsional, pemetaan kata lebih merupakan bentuk visual brainstorming. Kita memulainya pertama-tama dengan menulis ide di sudut atas atau di bagian tengah kertas kosong. Kemudian kita menulis kata-kata di satu lingkaran atau kotak dan mengbubungkannya dengan kata-kata di lingkaran atau kotak lain melalui anak panah seperti yang tertera di bawah ini:

                                                   
            Word-mapping merupakan kerangka dasar topik pembahasan tulisan. Dari contoh ini, jelas bahwa kita bisa membuat lingkaran lain untuk sub elemen membaca, menulis, berbicara dan menyimak. Kalau semua gagasan tercakupi, barulah kita melangka ke tahap implementasi yakni deskripsi, penyajian atau uraian tulisan secara utuh berdasarkan tujuan kita mengembangkan pokok pembicaraan.
Bila tujuan kita menulis adalah untuk memberi tahu, carilah bentuk penyajian yang sesuai: esei, studi, ulasan, risalah, laporan, tanya jawab, lukisan. Bila tujuan kita adalah untuk menggerakkan perasaan pembaca, gunakan bentuk yang sesuai dengan maksud itu: kisah, cerita pendek, novel, roman, drama, lukisan, sanjak, surat, percakapan, monolog, dan sebagainya (Widyamartaya, 2005). 
Terlepas dari kenyataan ini, menulis cepat alias quickwriting (Maggie, 2003) juga menjadi sebuah pilihan. Kita melakukannya dengan mengangkat suatu topik, dan menulis cepat berdasarkan topik tersebut. Kita menentukan sendiri batas waktu yang kita inginkan (bisa 20-35 menit untuk satu tulisan) sebagai tantangan dan kesempatan untuk melatih disiplin diri dalam menuangkan ide. Meskipun terkadang hukum yang berlaku ketika kita menulis adalah kepatuhan, komitmen, konsistensi dan bahkan keterpaksaan karena kebutuhan dan keinginan untuk maju dan berubah.      
Selama menulis cepat, kita kadang-kadang membuat kesalahan dan sebaiknya kita tidak usah mencoretnya. Setiap kesalahan di naskah diabaikan saja. Kita dituntut untuk menulis tanpa henti hingga batas waktu yang disediakan habis. Biarkan ide-ide keluar semua tanpa memperhitungkan tata bahasa, kosa kata, tanda baca dan ejaan. Setelah semuanya selesai, kita mengidentifikasi ide-ide utama melalui tanda khusus seperti memberi tanda dengan stabilo atau menggarisbawahinya. Ide-ide ini digunakan sebagai draf awal sebuah tulisan.    
Setelah itu, kita mulai menulis draf awal dengan berkosentrasi pada isi dan organisasi ide-ide. Dua elemen ini disebut  aspek-aspek makro. Sedangkan elemen lain seperti tata bahasa, kosa kata, tanda baca dan ejaan disebut “aspek-aspek mikro” (Ur, 1996).
Elemen-elemen ini menjadi bagian penting kegiatan evaluasi terutama ketika kita memberikan komentar atau perbaikan terhadap tulisan sendiri (self-edit) ala Ferris (2002) atau tulisan orang lain. Komentar kita lebih menekankan pentingnya isi dan organisasi ide-ide (aspek-aspek makro) dan bukan tata bahasa, kosa kata, ejaan dan tanda baca (aspek-aspek mikro).
Selama membaca, mengoreksi dan mengedit tulisan sendiri atau tulisan orang lain, kita mengikuti proses-proses seperti: (a) berfokus pada bentuk, misalnya, kata dan kalimat dan tanda baca, (b)  memerhatikan kesalahan-kesalahan utama seperti isi tulisan, pertalian ide-ide, logika berpikir dan susunan kata atau kalimat. 
Praktek Menulis
Setelah mengetahui strategi-strategi dan prosedur-prosedur menulis, kita menyediakan waktu khusus untuk praktek menulis setiap hari. Kita bisa memulainya dengan mengisi buku harian. Kita tidak perlu mengungkapkan perasaan-perasaan atau hal-hal yang bersifat pribadi dalam buku harian kita. Kita bisa mengutip berita-berita aktual dan ide-ide dari banyak sumber. Tugas kita selanjutnya adalah  belajar menganalisis dan menginterpretasi isi berita atau isu-isu lain seputar persoalan-persoalan kemasyarakatan.
Selain buku harian, kita juga menggunakan kartu indeks sebagai media untuk praktek menulis. Mengingat ukuran kartu ini kecil, mau tidak mau kita belajar untuk “berhemat” dalam menggunakan kata-kata (the economy of language).
Agar latihan menulis tidak membosankan, kita menggunakan teknik garis kehidupan atau lifeline (Ur, 1996). Dengan memasang judul “Pristiwa-peristiwa Penting dalam Kehidupanku,” kita menarik garis lurus dengan memberi tanda titik di sepanjang garis dengan anak panah di ujungnya. Setiap tanda titik mewakili tahun terjadinya suatu peristiwa dan anak panah menunjukkan bahwa kita berjalan menuju hari esok. Teknik ini juga disebut peta visual (a visual map) seperti yang digambarkan berikut ini:
1992               1997              2002                 2005                2009
                                                                                           
Lahir              SD                 SMP                SMA                 Kuliah
Kita menulis berdasarkan detil-detil yang kita gambarkan sendiri pada peta visual ini. Uniknya, kita menulis berdasarkan data-data. Ada pedoman yang mesti kita patuhi yakni uraian yang tidak boleh melenceng dari informasi awal, apa adanya.
Pada kesempatan lain, kalau waktu memungkinkan, kita membuat laporan buku (a book report). Meskipun agak membosankan dan menyita banyak waktu, kita menulis berdasarkan buku yang telah kita baca. Setidaknya kita tidak hanya membaca, tetapi mengupas isinya secara tuntas dengan cara menulis laporan.
Kalau tidak cocok dengan praktek yang ini, mengapa kita tidak memilih untuk menulis narasi sambil mendengarkan musik kesukaan kita. Kita boleh menggunakan gambar-gambar dari majalah-majalah atau koran-koran. Tulisan kita mengacu pada deskripsi fisik orang, benda atau binatang yang ada dalam gambar-gambar. Tentu kita berhak untuk menambahkan hal-hal positif yang timbul dari imajinasi dan daya berpikir yang lebih dalam dan kuat.
Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa menulis merupakan keterampilan produktif yang berhubungan erat dengan kemampuan dan keterampilan berkomunikasi secara logis, benar dan sistematis. Dengan demikian, strategi-strategi menulis sangat diperlukan agar penyampaian komunikasi dan pesan melalui pokok pembahasan lebih jelas, tepat, logis dan mudah dipahami.
Semua strategi menulis yang telah kita pelajari bersifat kontekstual, bisa digunakan sesuai dengan kebutuhan dan keingingan masing-masing. Tidak ada strategi yang lebih unggul dan ampuh dari strategi-strategi lainnya. Tetapi kita bisa menggunakan, minimal satu di antaranya, melalui latihan dan kegiatan menulis yang dilakukan secara konsisten dan  berkelanjutan. Semoga! 

Referensi
1. Ferris, Dana. 2002. Teaching Students to Self-Edit. In Richards, Jack C., and Renandya, Willy A., (Eds.) Methodology in Language Teaching An Anthology of Current Practice. Cambridge: Cambridge University Press.  
3.  Karim, M. & Rachmadie, S. 1996. Writing. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Tenaga Akademik.  
4.  Kiniry, M. & Rose, M. 1990. Critical Strategies for Academic Writing. New York: Bedford Books of St. Martin’s Press. 
5. Richards, Jack C. & Rodgers, Theodore S. 2001. Approaches and Methods in Language Teaching. Cambridge: Cambridge University Press. 
6. Sokolik, Maggie. 2003. Writing. In Nunan, David (Ed.) Practical English Language Teaching. New York:  McGraw Hill.
7.  Stott, Rebecca. 2001. Writing with Style. London: Pearson Education Limited.
8. Ur, Penny. 1996. A Course in Language Teaching Practice and Theory. Cambridge: Cambridge University Press.  
9.  Widyamartaya, A. 2005. Kreatif Mengarang. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

*Dosen Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta; Pengampu Mata Kuliah Writing dan Structure.

No comments:

Post a Comment