CERPEN
Oleh: Anselmus Sudirman
“Hari ulang tahun Rolan
hampir tiba,“ aku mulai bercerita. “Seperti biasa Mamanya bertanya padanya
mengenai hadiah yang diinginkannya.”
“Ron,” tanya sang Mama,
“apa yang kau inginkan untuk hadiah ulang tahunmu?”
Ia berpikir sebentar dan
balik bertanya, “Mama, bolehkah aku membeli sendiri hadiah yang
kuinginkan?”
“Ya, boleh.”
Jawaban ini seperti mimpi
yang menjadi kenyataan. Rolan memeluk Mamanya dan kemudian melompat
kegirangan.
Siang itu ia langsung
pergi ke toko dengan melintasi taman beraneka bunga dimana terdapat banyak
bangku taman. Orang-orang sedang duduk mengobrol di sana. Tapi ketika sampai di
ujung taman, ia melihat kejadian aneh.
Seorang wanita muda sedang duduk sendirian dan menangis tersedu-sedu.
Dalam sekejap Ron
mendekatinya dan bertanya dengan sopan, ”Nona, apa yang membuatmu sedih?”
“Dompetku hilang,” jawab
wanita itu. “Seseorang baru saja menyopetnya dariku. Padahal aku harus segera
pulang. Ada hal penting yang sedang menungguku.” Ia diam sesaat sebelum
melanjutkan, “Sekarang aku tidak bisa pulang. Aku sudah tidak mempunyai uang
lagi untuk membayar bis.”
“Kasihan!” Hati Ron
tersentuh dan prihatin ketika melihat wanita itu menangis. “Kalau saja polisi
berpatroli dekat sini, pencopet tidak berani membawa kabur uangmu.”
“Masalahnya aku kecopetan
di bis. Aku baru menyadari hal itu ketika turun di depan taman. Ya, rencananya
mau pindah ke bis lain. Eh, malah begini jadinya.”
“Sudahlah,” hibur Ron.
“Lain kali Nona harus hati-hati.” Ia segera mengambil uang dari dompetnya dan
ikhlas memberikannya pada wanita itu.
“Ini uangku,“ kata Ron
ramah, “jumlahnya sedikit, tapi kuharap cukup untuk uang bis.”
Mata wanita muda itu
berkaca-kaca. Ia terus memandang Rolan seolah tak percaya.
“Ambillah! Nona lebih
memerlukannya. Lagi pula aku bersepeda kok. Rumahku tidak terlalu jauh dari
sini.”
Ia memeluk Rolan erat-erat
dan berkali-kali mengucapkan terimakasih. Sebelum pergi, tak lupa ia menanyakan
alamat rumah anak itu.
Sesampai di rumah, Mamanya
bertanya padanya apa yang ia beli sebagai hadiah ulang tahunnya. “Ma, aku tidak
beli apa-apa,” jawabnya sambil tersenyum. “Tapi ada kejadian aneh yang kualami
hari ini.”
Ia menceritakannya dari
awal. Mamanya mendengarkannya. Tidak demikian dengan kakak-kakaknya. Mereka
marah setelah mengetahui bahwa adik mereka memberikan uang pada seorang wanita
asing di taman. Mereka menertawai dan mengatai-ngatainya sebagai anak yang
tolol dan menghambur-hamburkan uang.
“Aku kan tidak tega
melihat wanita itu, “ kata Rolan memberikan alasan. “Uangnya hilang. Tidak ada
yang menolongnya. Ia hanya menangis tersedu-sedu di sudut taman.”
Kakak-kakaknya tetap
menunjukkan sikap yang tidak sopan. Seperti biasa Rolan memilih mengalah dan
tertunduk tanpa membantah satu kata pun.
“Mengapa kalian mesti
marah? Seharusnya kalian senang Rolan menolong orang lain,” kata Mamanya tegas.
“Berhentilah bertingkah konyol seperti itu!”
Hari itu Rolan tidak
menghiraukan kakak-kakaknya yang bertingkah. Ia juga tidak peduli hari ulang
tahunnya dirayakan tanpa hadiah. Tapi di saat ia merasa tidak memiliki apa-apa,
tiba-tiba teman-temannya datang, mengucapkan selamat dan memberinya begitu
banyak kado.
Delapan hari kemudian
keluarga Rolan duduk menikmati kue pisang. Tiba-tiba bel pintu gerbang
berbunyi. Mamanya bangun, berjalan ke teras depan untuk memastikan siapa yang
datang. Dari kejauhan terdengar suara bercakap-cakap. Dan dalam hitungan menit
Mamanya masuk lagi. ”Papa, anak-anak,” katanya riang, “ada hal penting yang
harus kita dengar. Mari kita ke ruangan tamu, ada yang mau bertemu dengan kita
terutama dengan Rolan.”
Mereka semua berdiri dan
melangkah ke ruangan tamu. Di kursi sofa dekat jendela Rolan melihat wanita
muda yang pernah ditemuinya di taman. Ia ditemani seorang pria tampan dan
ramah. Begitu melihat Rolan, ia segera berdiri dari tempat duduknya dan berlari
memeluknya.
“Kami datang untuk
berterimakasih karena Rolan telah menolong Jenny,” kata pria itu. “Kalau waktu
itu Jenny tidak bisa pulang, pernikahan kami dibatalkan. Untungnya, Rolan mau
menolongnya.”
“Terimakasih, Rolan,“
bisik Jenny sambil tetap memeluknya.
Wajah orang tua Rolan
berseri-seri. Sementara kakak-kakaknya merasa malu. Mereka telah
mengata-ngatai, menertawai dan mencelanya habis-habisan.
Jenny dan , suaminya
membawa berbagai macam hadiah untuk Rolan sebagai tanda terimakasih. Rolan
merasa senang. Meskipun demikian, ia tidak lupa berbagi hadiah dengan
kakak-kakaknya.
“Rolan, maafkan aku,” kata
Lukman, kakak sulungnya. “Aku berjanji. Tidak mau melakukannya lagi.” Hafiz
juga memaafkannya. “Sebagai kakak, aku seharusnya tidak boleh bertingkah,“
katanya. “Mulai sekarang, aku tidak mau lagi mengucapkan kata-kata celaan,
sindiran dan cemoohan seperti yang pernah kulakukan selama ini.”
“Akhirnya,“ aku menutup
cerita, “setelah semua tetangga mengetahui kejadian itu, mereka memanggil Rolan
dengan julukan – pahlawan kecil dari jalan mawar – sesuai dengan nama
jalan kecil tempat mereka tinggal. Mereka yakin masih banyak pahlawan kecil
dari jalan-jalan lain di kota mereka, bahkan di kota-kota lain di seluruh
dunia.”
No comments:
Post a Comment