Wednesday, March 19, 2014

PAHLAWAN KECIL DARI JALAN MAWAR


CERPEN

Oleh: Anselmus Sudirman

“Hari ulang tahun Rolan hampir tiba,“ aku mulai bercerita. “Seperti biasa Mamanya bertanya padanya mengenai hadiah yang diinginkannya.” 
“Ron,” tanya sang Mama, “apa yang kau inginkan untuk hadiah ulang tahunmu?”
Ia berpikir sebentar dan balik bertanya, “Mama, bolehkah aku membeli sendiri hadiah yang kuinginkan?”   
“Ya, boleh.”
Jawaban ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Rolan memeluk Mamanya dan kemudian melompat kegirangan. 
Siang itu ia langsung pergi ke toko dengan melintasi taman beraneka bunga dimana terdapat banyak bangku taman. Orang-orang sedang duduk mengobrol di sana. Tapi ketika sampai di ujung taman, ia melihat kejadian aneh.  Seorang wanita muda sedang duduk sendirian dan menangis tersedu-sedu.
Dalam sekejap Ron mendekatinya dan bertanya dengan sopan, ”Nona, apa yang membuatmu sedih?”
“Dompetku hilang,” jawab wanita itu. “Seseorang baru saja menyopetnya dariku. Padahal aku harus segera pulang. Ada hal penting yang sedang menungguku.” Ia diam sesaat sebelum melanjutkan, “Sekarang aku tidak bisa pulang. Aku sudah tidak mempunyai uang lagi untuk membayar bis.” 
“Kasihan!” Hati Ron tersentuh dan prihatin ketika melihat wanita itu menangis. “Kalau saja polisi berpatroli dekat sini, pencopet tidak berani membawa kabur uangmu.” 
“Masalahnya aku kecopetan di bis. Aku baru menyadari hal itu ketika turun di depan taman. Ya, rencananya mau pindah ke bis lain. Eh, malah begini jadinya.”
“Sudahlah,” hibur Ron. “Lain kali Nona harus hati-hati.” Ia segera mengambil uang dari dompetnya dan ikhlas memberikannya pada wanita itu.
“Ini uangku,“ kata Ron ramah, “jumlahnya sedikit, tapi kuharap cukup untuk uang bis.”
Mata wanita muda itu berkaca-kaca. Ia terus memandang Rolan seolah tak percaya.
“Ambillah! Nona lebih memerlukannya. Lagi pula aku bersepeda kok. Rumahku tidak terlalu jauh dari sini.”
Ia memeluk Rolan erat-erat dan berkali-kali mengucapkan terimakasih. Sebelum pergi, tak lupa ia menanyakan alamat rumah anak itu.    
Sesampai di rumah, Mamanya bertanya padanya apa yang ia beli sebagai hadiah ulang tahunnya. “Ma, aku tidak beli apa-apa,” jawabnya sambil tersenyum. “Tapi ada kejadian aneh yang kualami hari ini.” 
Ia menceritakannya dari awal. Mamanya mendengarkannya. Tidak demikian dengan kakak-kakaknya. Mereka marah setelah mengetahui bahwa adik mereka memberikan uang pada seorang wanita asing di taman. Mereka menertawai dan mengatai-ngatainya sebagai anak yang tolol dan menghambur-hamburkan uang.  
“Aku kan tidak tega melihat wanita itu, “ kata Rolan memberikan alasan. “Uangnya hilang. Tidak ada yang menolongnya. Ia hanya menangis tersedu-sedu di sudut taman.”
Kakak-kakaknya tetap menunjukkan sikap yang tidak sopan. Seperti biasa Rolan memilih mengalah dan tertunduk tanpa membantah satu kata pun.
“Mengapa kalian mesti marah? Seharusnya kalian senang Rolan menolong orang lain,” kata Mamanya tegas. “Berhentilah bertingkah konyol seperti itu!” 
Hari itu Rolan tidak menghiraukan kakak-kakaknya yang bertingkah. Ia juga tidak peduli hari ulang tahunnya dirayakan tanpa hadiah. Tapi di saat ia merasa tidak memiliki apa-apa, tiba-tiba teman-temannya datang, mengucapkan selamat dan memberinya begitu banyak kado.          
Delapan hari kemudian keluarga Rolan duduk menikmati kue pisang. Tiba-tiba bel pintu gerbang berbunyi. Mamanya bangun, berjalan ke teras depan untuk memastikan siapa yang datang. Dari kejauhan terdengar suara bercakap-cakap. Dan dalam hitungan menit Mamanya masuk lagi. ”Papa, anak-anak,” katanya riang, “ada hal penting yang harus kita dengar. Mari kita ke ruangan tamu, ada yang mau bertemu dengan kita terutama dengan Rolan.”
Mereka semua berdiri dan melangkah ke ruangan tamu. Di kursi sofa dekat jendela Rolan melihat wanita muda yang pernah ditemuinya di taman. Ia ditemani seorang pria tampan dan ramah. Begitu melihat Rolan, ia segera berdiri dari tempat duduknya dan berlari memeluknya.
“Kami datang untuk berterimakasih karena Rolan telah menolong Jenny,” kata pria itu. “Kalau waktu itu Jenny tidak bisa pulang, pernikahan kami dibatalkan. Untungnya, Rolan mau menolongnya.”  
“Terimakasih, Rolan,“ bisik Jenny sambil tetap memeluknya. 
Wajah orang tua Rolan berseri-seri. Sementara kakak-kakaknya merasa malu. Mereka telah mengata-ngatai, menertawai dan mencelanya habis-habisan.
Jenny dan , suaminya membawa berbagai macam hadiah untuk Rolan sebagai tanda terimakasih. Rolan merasa senang. Meskipun demikian, ia tidak lupa berbagi hadiah dengan kakak-kakaknya.
“Rolan, maafkan aku,” kata Lukman, kakak sulungnya. “Aku berjanji. Tidak mau melakukannya lagi.” Hafiz juga memaafkannya. “Sebagai kakak, aku seharusnya tidak boleh bertingkah,“ katanya. “Mulai sekarang, aku tidak mau lagi mengucapkan kata-kata celaan, sindiran dan cemoohan seperti yang pernah kulakukan selama ini.”   
“Akhirnya,“ aku menutup cerita, “setelah semua tetangga mengetahui kejadian itu, mereka memanggil Rolan dengan julukan – pahlawan kecil dari jalan mawar – sesuai dengan nama jalan kecil tempat mereka tinggal. Mereka yakin masih banyak pahlawan kecil dari jalan-jalan lain di kota mereka, bahkan di kota-kota lain di seluruh dunia.”

No comments:

Post a Comment