Oleh: Anselmus Sudirman*
The ability to read is essential for
learning in every field of knowledge, and the student who reads poorly is
handicapped in almost all school subjects.
Dalam
kehidupan sehari-hari, kegiatan membaca diperlukan bagi siswa yang selalu berkutat
dengan banyak buku teks pelajaran. Hal ini tentu menjadi harga mati bagi upaya
menggeluti dunia akademik yang sarat akan informasi faktual dan ilmu
pengetahuan.
Untuk itu perkataan
Dorothy M. Fraser (1963) di awal tulisan ini menarik untuk dicermati. Pertama,
membaca merupakan modal berharga bagi siswa dalam meningkatkan prestasi belajar
di sekolah. Kedua, wasasan dan pengetahuannya akan bertambah sejalan dengan kegiatan
membaca yang semakin sering dilakukan.
Apabila hal ini diperkuat
dengan motivasi dari dalam diri sendiri, dapat dipastikan membaca akan menjadi
kegiatan yang menyenangkan, berguna, memberi inspirasi, mempertajam pemahaman dan
analisis untuk setiap materi pelajaran. Dengan demikian prestasi akademik di
sekolah akan menjadi lebih baik. Pintu gerbang kesuksesan di masa yang akan
datang akan terbuka lebar.
Tidak ada cara lain untuk mempraktekkannya
selain memulainya sekarang dengan membuka lembaran baru kehidupan yang lebih terjadwal,
terfokus dan disiplin. Sebagai contoh, kisah sukses para peraih medali dalam
berbagai kompetisi ilmiah lokal, national dan internasional tidak turun begitu
saja dari langit. Semuanya diawali dengan perjuangan menggeluti rutinitas
membaca banyak naskah selain berbekalkan latihan, bimbingan, kedisiplinan dan
kemampuan berpikir.
Strategi-strategi membaca yang efektif
Terkait artikulasi ini, membaca
bukan hanya kebiasaan yang dilakukan melalui proses latihan dan pengulangan. Kalau
demikian, ungkapan klasik practice makes perfect tidak cocok diterapkan karena
membaca hanya rutinitas biasa. Sebaliknya, kalau membaca dilakukan dengan lebih
elegan, ungkapan ini seharusnya diubah menjadi perfect practice makes
perfect. Di sini, kata perfect pada frase perfect practice memberi
penekanan pada strategi-strategi efektif yang digunakan ketika membaca. Beberapa
di antaranya pernah diulas dalam Kompas (19/10/2008).
Pertama, bacalah terlebih dahulu bagian-bagian
penting dalam buku seperti biografi penulis, pengantar, resensi dan daftar isi.
Jelas bahwa gambaran umum tentang isi buku tertuang dalam segmen-segmen ini. Untuk
konteks pelajaran di sekolah, kegiatan membaca akan semakin mudah dilakukan
apabila siswa langsung menelusuri bagian-bagian mana yang akan dibaca duluan,
mana yang akan menyusul.
Kedua, ubahlah kebiasaan-kebiasaan buruk ketika
membaca. Kebiasaan apa saja sih yang termasuk dalam kategori ini? Jika guru
menggerakkan bibir ketika membaca dan di saat yang bersamaan siswa dalam satu
kelas juga ikut-ikutan melakukan hal serupa, itu berarti baik guru maupun siswa
telah melakukan satu kebiasaan membaca yang buruk.
Demikian pula, apabila guru
sibuk menunjuk tulisan dan siswa juga ikut-ikutan melakukannya, berarti sudah
dua kebiasaan membaca yang buruk terjadi di kelas yang sama. Dan, di kesempatan
lain, guru membaca keras-keras dan siswa ramai-ramai menirukannya, itu berarti daftar
kebiasaan membaca yang buruk bertambah dan masih banyak lagi kebiasaan buruk
lainnya.
Ketiga, mulailah berlatih membaca cepat. Jainping
(2003) menulis bahwa daya serap pelajaran hanya mencapai 50% ketika siswa membaca
cepat dengan kecepatan lebih dari 800 kata per menit. Dari kenyataan ini dianjurkan
agar siswa tidak hanya membaca cepat tetapi membaca cermat lebih diutamakan
mengingat pemahaman menjadi target kemajuan belajar.
Keempat, bacalah buku per paragraf secara
teratur. Bisa dibayangkan, kegiatan ini bisa sangat melelahkan. Mau bagaimana
lagi? Belajar menjadi yang terbaik biasanya dicapai melalui latihan, kedisiplinan
dan pengulangan (repetitive acts) hingga meraih kesuksesan yang
diperoleh dengan kerja keras (hard-won success) yang dalam prakteknya
sering dihadapkan dengan inkonsistensi dan rendahnya semangat belajar.
Membaca bisa dimulai di rumah
Dapat dikatakan bahwa membaca
memerlukan konsistensi. Selain niat dan dorongan dari dalam diri sendiri, dukungan
keluarga sangat dibutuhkan. Tanpa mengabaikan peran sekolah sebagai salah satu basis
kegiatan membaca, tentu lingkungan keluarga turut menentukan kebiasaan membaca siswa.
Hal ini beralasan karena
membaca bisa dimulai di rumah – reading, as a habit, can begin at home! Kalau
itu yang terjadi, siswa semakin menguasai materi-materi pelajarannya. Agar
hasilnya lebih maksimal, diperlukan kegiatan mencatat atau meringkas.
Cepat atau lambat apa yang
dilakukannya benar-benar bernilai dan menguntungkan. Maka Charles Dickens
(1812-1870) menyimpulkannya dengan satu kalimat singkat, “What is worth
doing at all is worth doing well.”
*Anselmus Sudirman, dosen PBI
Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Yogyakarta dan alumnus Magister Kajian
Bahasa Inggris, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
No comments:
Post a Comment