Tuesday, March 18, 2014

MEMBACA: SALAH SATU KUNCI PENGUASAAN MATERI PELAJARAN DI SEKOLAH

OPINI


Oleh: Anselmus Sudirman*

The ability to read is essential for learning in every field of knowledge, and the student who reads poorly is handicapped in almost all school subjects.

            Dalam kehidupan sehari-hari, kegiatan membaca diperlukan bagi siswa yang selalu berkutat dengan banyak buku teks pelajaran. Hal ini tentu menjadi harga mati bagi upaya menggeluti dunia akademik yang sarat akan informasi faktual dan ilmu pengetahuan.    
Untuk itu perkataan Dorothy M. Fraser (1963) di awal tulisan ini menarik untuk dicermati. Pertama, membaca merupakan modal berharga bagi siswa dalam meningkatkan prestasi belajar di sekolah. Kedua, wasasan dan pengetahuannya akan bertambah sejalan dengan kegiatan membaca yang semakin sering dilakukan.
Apabila hal ini diperkuat dengan motivasi dari dalam diri sendiri, dapat dipastikan membaca akan menjadi kegiatan yang menyenangkan, berguna, memberi inspirasi, mempertajam pemahaman dan analisis untuk setiap materi pelajaran. Dengan demikian prestasi akademik di sekolah akan menjadi lebih baik. Pintu gerbang kesuksesan di masa yang akan datang akan terbuka lebar.
Tidak ada cara lain untuk mempraktekkannya selain memulainya sekarang dengan membuka lembaran baru kehidupan yang lebih terjadwal, terfokus dan disiplin. Sebagai contoh, kisah sukses para peraih medali dalam berbagai kompetisi ilmiah lokal, national dan internasional tidak turun begitu saja dari langit. Semuanya diawali dengan perjuangan menggeluti rutinitas membaca banyak naskah selain berbekalkan latihan, bimbingan, kedisiplinan dan kemampuan berpikir.  
Strategi-strategi membaca yang efektif
Terkait artikulasi ini, membaca bukan hanya kebiasaan yang dilakukan melalui proses latihan dan pengulangan. Kalau demikian, ungkapan klasik practice makes perfect tidak cocok diterapkan karena membaca hanya rutinitas biasa. Sebaliknya, kalau membaca dilakukan dengan lebih elegan, ungkapan ini seharusnya diubah menjadi perfect practice makes perfect. Di sini, kata perfect pada frase perfect practice memberi penekanan pada strategi-strategi efektif yang digunakan ketika membaca. Beberapa di antaranya pernah diulas dalam Kompas (19/10/2008).
Pertama, bacalah terlebih dahulu bagian-bagian penting dalam buku seperti biografi penulis, pengantar, resensi dan daftar isi. Jelas bahwa gambaran umum tentang isi buku tertuang dalam segmen-segmen ini. Untuk konteks pelajaran di sekolah, kegiatan membaca akan semakin mudah dilakukan apabila siswa langsung menelusuri bagian-bagian mana yang akan dibaca duluan, mana yang akan menyusul.
Kedua, ubahlah kebiasaan-kebiasaan buruk ketika membaca. Kebiasaan apa saja sih yang termasuk dalam kategori ini? Jika guru menggerakkan bibir ketika membaca dan di saat yang bersamaan siswa dalam satu kelas juga ikut-ikutan melakukan hal serupa, itu berarti baik guru maupun siswa telah melakukan satu kebiasaan membaca yang buruk.     
Demikian pula, apabila guru sibuk menunjuk tulisan dan siswa juga ikut-ikutan melakukannya, berarti sudah dua kebiasaan membaca yang buruk terjadi di kelas yang sama. Dan, di kesempatan lain, guru membaca keras-keras dan siswa ramai-ramai menirukannya, itu berarti daftar kebiasaan membaca yang buruk bertambah dan masih banyak lagi kebiasaan buruk lainnya.    
Ketiga, mulailah berlatih membaca cepat. Jainping (2003) menulis bahwa daya serap pelajaran hanya mencapai 50% ketika siswa membaca cepat dengan kecepatan lebih dari 800 kata per menit. Dari kenyataan ini dianjurkan agar siswa tidak hanya membaca cepat tetapi membaca cermat lebih diutamakan mengingat pemahaman menjadi target kemajuan belajar.
Keempat, bacalah buku per paragraf secara teratur. Bisa dibayangkan, kegiatan ini bisa sangat melelahkan. Mau bagaimana lagi? Belajar menjadi yang terbaik biasanya dicapai melalui latihan, kedisiplinan dan pengulangan (repetitive acts) hingga meraih kesuksesan yang diperoleh dengan kerja keras (hard-won success) yang dalam prakteknya sering dihadapkan dengan inkonsistensi dan rendahnya semangat belajar.    
Membaca bisa dimulai di rumah  
Dapat dikatakan bahwa membaca memerlukan konsistensi. Selain niat dan dorongan dari dalam diri sendiri, dukungan keluarga sangat dibutuhkan. Tanpa mengabaikan peran sekolah sebagai salah satu basis kegiatan membaca, tentu lingkungan keluarga turut menentukan kebiasaan membaca siswa.
Hal ini beralasan karena membaca bisa dimulai di rumah – reading, as a habit, can begin at home! Kalau itu yang terjadi, siswa semakin menguasai materi-materi pelajarannya. Agar hasilnya lebih maksimal, diperlukan kegiatan mencatat atau meringkas.
Cepat atau lambat apa yang dilakukannya benar-benar bernilai dan menguntungkan. Maka Charles Dickens (1812-1870) menyimpulkannya dengan satu kalimat singkat, “What is worth doing at all is worth doing well.”  
           
*Anselmus Sudirman, dosen PBI Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Yogyakarta dan alumnus Magister Kajian Bahasa Inggris, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta 

No comments:

Post a Comment