OPINI
Oleh: Anselmus Sudirman*
Patut diakui, proyek-proyek pembelajaran sangat berguna
bagi pengembangan individu siswa atau mahasiswa secara keseluruhan. Tujuannya adalah
(a) untuk mencapai tingkat keterampilan dan tanggungjawab di kelas, di sekolah,
di kampus atau di rumah; dan (b) untuk mengasah ketelitian, kompetensi akademik
dan sosial.
Menurut Oxford (2002) terobosan
dalam berbagai proyek pembelajaran memerlukan strategi-strategi kognitif dan
metakognitif. Yang disebut pertama berangkat dari kebutuhan siswa atau
mahasiswa untuk menganalisis, mengulas, menyampaikan informasi, mencatat dan
meringkas. Sedangkan yang disebut kedua terkait erat dengan pengorganisasian ide-ide,
evaluasi dan perencanaan pembelajaran.
Untuk mendukung dua
strategi itu, Beglar dan Hunt (2002) menelurkan istilah kapasitas dan kompleksitas kognitif yang dalam
prakteknya melibatkan pemikiran kritis dan konseptual agar memudahkan
penyelesaian proyek-proyek pembelajaran. Sayang, dalam kondisi riil, aspek kognitif
dan metakognitif saja tidak cukup. Mestinya aspek lain seperti aksi sosial dan
kompetensi sosial (Shumin, 2002) diperhitungkan karena lebih mengandalkan keterlibatan,
sosialisasi, kerjasama dan kemandirian.
Dengan demikian
proyek-proyek pembelajaran merangsang penyingkapan realitas kehidupan di tengah
masyarakat akademik atau masyarakat umum. Artikulasi ini relevan dengan pemikiran
Zuly Qodir (2009) yang mengatakan bahwa pendidikan merupakan aktivitas belajar
yang dapat berinteraksi dan berkorespondensi dengan realitas hidup.
Dalam upaya ini paket-paket
pembelajaran sudah seharusnya konsisten dalam memosisikan siswa atau mahasiswa
sebagai agen perubahan sosial, individu-individu cerdas yang tetap menjunjung
tinggi akhlak dan moralitas dalam kehidupannya kelak. Tidak hanya itu, proses pembelajaran
harus membuka akses seluas-luasnya bagi kegiatan belajar mandiri dan belajar
tuntas (overlearning). Dari sini
“cipta, rasa dan karsa” (Ki Hadjar Dewantara) semakin mengkristal.
Manfaat
proyek-proyek pembelajaran
Phillips, Burwood & Dunford (1999) menyebutkan empat
manfaat proyek-proyek pembelajaran, yakni:
Pertama, keterampilan intelektual. Siswa atau
mahasiswa melakukan kegiatan akademik berbasis proyek (project-based academic activities) karena alasan yang beragam –
membantu proses berpikir, melahirklan konsep-konsep orisinil, mendeskripsikan,
menarik kesimpulan, berimajinasi, berhipotesis, membaca banyak naskah,
menerjemahkan dan merencanakan.
Dalam konteks ini, setiap
proyek pembelajaran bermuara pada peningkatan motivasi belajar, penguatan akses
informasi, reinvestasi ilmu pengetahuan, daya tarik bidang kajian dan tantangan
baru. Hanya satu kata yang bisa mewakili fakta ini – academic dynamics – suatu fenomena yang sedang marak terjadi di
sekolah-sekolah atau di kampus-kampus dengan indikasi budaya akademik yang
hadir dalam bentuk diskusi kelompok, cooperative
learning (Richards & Renandya, 2002), kelompok belajar, seminar atau
kuliah umum.
Kedua, keterampilan fisik atau motorik.
Cakupannya meliputi proyek-proyek seni dan keterampilan tangan seperti
mewarnai, melukis, memotong dan melipat kertas, melem dan menulis. Selain itu
ada pula eksperimen yang menggunakan alat ukur, mencatat, memindahkan
berkas-berkas dalam sampel penelitian.
Di saat pembelajaran terus
berfokus pada upaya-upaya ini, tanpa disadari bahwa budaya akademik cepat atau
lambat akan melahirkan generasi yang tekun, sabar, cekatan dan trampil meramu
data-data ilmiah, atau menempatkan aspek seni pada ruang imajinasi dan kreativitas
tinggi yang cenderung revolusioner (novis
rebus: Latin) dan bahkan fenomenal. Pencitraan siswa atau mahasiswa sebagai
calon-calon kaum intelektual tercermin melalui penemuan-penemuan unik yang pada
awal mula dikerjakan secara manual (baca: aspek fisik/motorik).
Ketiga, keterampilan sosial. Sebagai makhluk
sosial, siswa atau mahasiswa belajar hidup berdampingan, belajar mengerjakan
tugas-tugas bersama orang lain. Hal yang menarik dari realitas ini adalah
pembangunan karakter dalam membagi peran, gagasan, keterlibatan, kolaborasi dan
koordinasi, mengambil keputusan bersama dan menghargai kontribusi setiap
individu bagi kesuksesan bersama.
Sosialisasi menjadi salah
satu kata kunci kerjasama. Batas-batas geografis dan latar belakang kehidupan sosial
dan ekonomi siswa atau mahasiswa bukan merupakan ancaman dan halangan. Semakin
solid semangat ini digelorakan, atmosfir akademik semakin kondusif, kebersamaan
semakin menemukan bentuknya. Istilah the
power of teamwork tak pelak menjadi tumpuan perjuangan bersama, reposisi
kenyataan sosial.
Keempat, keterampilan hidup mandiri. Pada
tahap pelaksanaan proyek-proyek, siswa atau mahasiswa dihadapkan dengan pilihan
dan tanggungjawab yang diejawantahkan dalam membangun kemandirian akademik.
Tidak ada cara lain untuk memaksimalkannya selain memutuskan bagaimana
menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.
Secara langsung tuntutan
ini memungkinkan perburuan informasi, perencanaan, uji coba terobosan baru,
pengkajian, revisi, monitoring dan evaluasi yang akurat terhadap hasil-hasil yang
telah dicapai. Pola belajar yang demikian berimplikasi positif tatkala siswa
atau mahasiswa terjun ke dalam wilayah penelitian dan akademik.
Jenis-jenis
proyek pembelajaran
Berdasarkan
asas kepentingan pengambil kebijakan, proyek-proyek pembelajaran terdiri dari
tiga bagian (Henry, 1994) dalam Stoller (2002: 110):
Pertama, structured projects. Proyek tipe ini
tergolong teacher/lecturer-centered karena
guru atau dosen berperan dalam menentukan dan mengorganisir topik, materi,
metodologi dan presentasi tugas-tugas pembelajaran.
Secara faktual,
keseragaman menjadi ciri khas proyek ini, tetapi harap diingat bahwa tidak
semua siswa atau mahasiswa menyukainya. Alasannya sederhana saja, atas nama
keseragaman, ruang kreativitas kurang diapresiasi. Tidak ada negosiasi soal
konsep-konsep atau elaborasi ide-ide kecuali kalau tersedia ruang
berkonsultasi.
Sebaliknya, bagi guru atau
dosen, kedalaman dan akurasi ulasan sudah bisa diprediksi. Kisi-kisi jawaban
sudah disiapkan. Teknik-teknik penilaian tidak akan menyulitkannya karena
idealnya isi materi sudah dikuasainya. Atau minimal topik yang disodorkannya
berangkat dari refensi bacaan atau disiplin ilmu yang pernah dan sedang
digelutinya.
Bahayanya bahwa ketika
jawaban atau ulasan siswa atau mahasiswa melenceng dari substansi ini, apakah
guru atau dosen menghargainya? Apakah jawaban melenceng dianggap sebagai suatu
kesalahan? Atau malah versi lain yang tidak bertentangan secara ilmiah?
Jawaban terhadap
pertanyaan-pertanyaan ini mudah-mudahan tidak menimbulkan kekecewaan di pihak
siswa atau mahasiswa. Apalagi bila standar penilaian telah dibakukan bahkan
hingga tanda koma dan titik. Kalau itu yang terjadi, metafora bahwa guru atau
dosen ibarat pembunuh berdarah dingin (a cold-blooded
killer) tak terhindarkan. Atau istilah “the
silent killer” untuk guru atau dosen mungkin bisa dibenarkan.
Kedua, unstructured projects.
Dalam proyek ini siswa atau mahasiswa menentukan sendiri topik, materi,
metodologi dan presentasi yang diinginkan (student-centered).
Mereka boleh terjun bebas, mengoptimalkan potensi dan kemampuan masing-masing.
Sementara tugas guru atau dosen hanya sebatas memberikan ruang bagi ekspresi
ide-ide kritis dan kreativitas tanpa menghilangkan aspek obyektivitas penilaian.
Keunggulannya justru terletak
pada tuntutan bahwa pengembangan individu siswa atau mahasiswa merupakan prioritas
perencanaan dan pengerjaan proyek-proyek yang sungguh bervariasi. Dengan
catatan bahwa nuansa akademik harus bebas dari tekanan atau dominasi guru atau
dosen yang justru menimbulkan masalah.
Ketiga, semistructured projects. Proyek-proyek
pembelajaran diputuskan bersama guru dan siswa, dosen dan mahasiswa. Hal-hal mengenai
topik, materi, metodologi dan presentasi disesuaikan dengan kebutuhan. Setiap
butir kesepakatan dipatuhi dalam kerangka mencapai level pemahaman dan
kompetensi seperti yang digariskan dalam silabus. Melalui cara ini siswa atau
mahasiswa, guru atau dosen menelusuri ilmu pengetahuan, mencoba membandingkan
teori yang satu dengan teori yang lain, mencari titik kontras dan mengulasnya
dalam laporan atau tulisan yang kemudian dibahas bersama.
Usaha ini memerlukan komitmen
mengedepankan kualitas dan perjuangan lebih mengingat kompetisi akademik semakin
ketat. Pembelajaran semakin menitikberatkan personal
academic achievements yang dibangun melalui task motivation (Brown, 1987) dalam (Ur, 1999: 276), pengalaman, ketekunan dan
kedisiplinan.
Aktivitas pembelajaran
yang demikian akan dinilai dan mendapatkan pengakuan akademik. Tingkat penguasaan
dan pemahaman yang lebih baik, misalnya, menjadi indikator bahwa proyek yang
dikerjakan siswa atau mahasiswa telah memenuhi kriteria tertentu. Tetapi
realitas di lapangan menujukan bahwa tidak sedikit siswa atau mahasiswa yang
pasif dan bergantung sepenuhnya pada anggota kelompok lain.
Kondisi ini menciptakan peluang
terkuburnya impian dan potensi. Wajah-wajah kosong menghiasi pergumulan ilmiah.
Singkat kata, labirin kegiatan presentasi dan diskusi semakin kompleks. Belum
lagi ditambah dengan kebiasaan presentasi tanpa persiapan yang dapat mengurangi
kredit pencapaian kelompok.
Guru atau dosen boleh memasang
target yang tinggi, tetapi tanpa berkaca pada kenyataan di kelas, pokok-pokok
penilain tidak lebih dari sekadar rutinitas biasa – jauh dari kesan akademik
yang sesungguhnya. Terlepas dari kesan ini, sebelum presentasi memang mutlak diperlukan
bimbingan terpadu, konsultasi dan reorientasi penyelesaian akhir proyek-proyek
atau tugas-tugas yang sedang digarap.
Berdasarkan teknik
pengumpulan data dan sumber informasi, proyek-proyek pembelajaran terdiri dari lima bagian (Haines, 1989
dan Legutke & Thomas, 1991) dalam Ur,
1999: 111), yakni:
Pertama, research projects. Proyek tipe ini terkenal
dengan teknik pengumpulan data atau informasi melalui penelitian kepustakaan. Siswa
atau mahasiswa belajar untuk membiasakan diri dengan bacaan-bacaan ilmiah dan
berhadapaan langsung dengan teks-teks yang harus dicerna dan diulas kembali
isinya. Proses belajar seperti ini melelahkan, tetapi memberikan keuntungan
bagi aplikasi pendekatan kognitif terhadap gagasan-gagasan para ahli dan
ilmuwan.
Kedua, text projects. Proyek jenis ini menuntut siswa atau mahasiswa
untuk membaca, memahami dan mengulas kembali teks-teks sastra, laporan, berita
media, materi video dan audio atau informasi-informasi berbasis komputer dan
internet.
Bagi siswa atau mahasiswa
yang gemar membaca karya-karya sastra dan linguistik, misalnya, proyek teks
menguak konsep kehidupan dalam latar fiksi ilmiah, dunia linguistik dan
nonlinguistik. Jadi proses pembelajaran berlangsung menurut sudut pandang
cerita, lakon, keindahan berbahasa dan lain-lain yang dirangkai secara logis,
sistematis dan akurat dalam frase, ungkapan, puisi dan istilah-istilah.
Ketiga, correspondence projects. Siswa atau
mahasiswa berkomunikasi dengan pihak lain yang bergelut dalam bidang bisnis,
agen-agen pemerintah, sekolah atau kamar dagang. Kegiatan korespondensi
dilakukan melalui surat,
feks, telepon atau e-mail dan
bertujuan untuk mendapatkan informasi atau input baru.
Dalam proyek ini,
pemahaman tentang bidang kajian korespondensi dibutuhkan terutama
istilah-istilah teknis dan nonteknis. Namun kegiatan proyek akan lebih baik
apabila digagas dalam komunitas ilmiah (the
scientific community) yang menyediakan ruang dialog, diskusi dan jasa
pelayanan penerjemah profesional naskah-nakah asing guna mengantisipasi
degradasi konsep-konsep ilmiah yang mungkin terjadi.
Kempat, survey projects. Siswa atau mahasiswa
mengadakan survei melalui instrumen survei untuk mengumpulkan dan menganalisis
informasi dari para informan. Proyek ini biasanya berjalan dalam koridor pengetahuan
yang cukup tentang teknik dan strategi survei. Jika tidak, kegiatan penelitian
dipastikan terhambat pelaksanaannya.
Kelima, encounter projects. Proyek ini sering
dilakukan siswa atau mahasiswa yang mengambil program studi bahasa asing. Secara
umum mereka ditugaskan untuk bertemu langsung dengan tamu-tamu native
speakers di luar sekolah atau kampus dan berunjuk kebolehan menggunakan
bahasa asing yang dipelajarinya, merekam pembicaraan dan menulisnya kembali
menjadi laporan.
Kesimpulan
Pembelajaran berbasis
proyek sangat penting dalam mencapai kemandirian akademik. Untuk itu profesionalitas
dan kinerja siswa atau mahasiswa diperlukan dalam mengulas materi presentasi.
Sebagai kaum terpelajar, mereka seharusnya dibiasakan untuk menggali akar
permasalahan, belajar bekerjasama, berpikir sistematis dan konseptual serta mencari
sebanyak-banyaknya referensi pelajaran atau perkuliahan.
Maka pada gilirannya secara
kognitif dan sosial, kompetensi mereka semakin baik. Dengan begitu, budaya akademik
benar-benar berdampak positif bagi sosialisasi, kolaborasi, eksplorasi,
imajinasi, seni teatrikal maupun debat terbuka. Dari realitas ini angin
perubahan diharapkan berembus hingga menyentuh aspek pembaruan kegiatan-kegiatan
pembelajaran yang lebih dinamis dan jauh dari kesan membosankan, menakutkan.
*Anselmus
Sudirman, dosen PBI Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Yogyakarta
No comments:
Post a Comment