Tuesday, March 18, 2014

PROYEK-PROYEK PEMBELAJARAN


OPINI


Oleh: Anselmus Sudirman*



            Patut diakui, proyek-proyek pembelajaran sangat berguna bagi pengembangan individu siswa atau mahasiswa secara keseluruhan. Tujuannya adalah (a) untuk mencapai tingkat keterampilan dan tanggungjawab di kelas, di sekolah, di kampus atau di rumah; dan (b) untuk mengasah ketelitian, kompetensi akademik dan sosial.    
Menurut Oxford (2002) terobosan dalam berbagai proyek pembelajaran memerlukan strategi-strategi kognitif dan metakognitif. Yang disebut pertama berangkat dari kebutuhan siswa atau mahasiswa untuk menganalisis, mengulas, menyampaikan informasi, mencatat dan meringkas. Sedangkan yang disebut kedua terkait erat dengan pengorganisasian ide-ide, evaluasi dan perencanaan pembelajaran.  
Untuk mendukung dua strategi itu, Beglar dan Hunt (2002) menelurkan istilah  kapasitas dan kompleksitas kognitif yang dalam prakteknya melibatkan pemikiran kritis dan konseptual agar memudahkan penyelesaian proyek-proyek pembelajaran. Sayang, dalam kondisi riil, aspek kognitif dan metakognitif saja tidak cukup. Mestinya aspek lain seperti aksi sosial dan kompetensi sosial (Shumin, 2002) diperhitungkan karena lebih mengandalkan keterlibatan, sosialisasi, kerjasama dan kemandirian.
Dengan demikian proyek-proyek pembelajaran merangsang penyingkapan realitas kehidupan di tengah masyarakat akademik atau masyarakat umum. Artikulasi ini relevan dengan pemikiran Zuly Qodir (2009) yang mengatakan bahwa pendidikan merupakan aktivitas belajar yang dapat berinteraksi dan berkorespondensi dengan realitas hidup.
Dalam upaya ini paket-paket pembelajaran sudah seharusnya konsisten dalam memosisikan siswa atau mahasiswa sebagai agen perubahan sosial, individu-individu cerdas yang tetap menjunjung tinggi akhlak dan moralitas dalam kehidupannya kelak. Tidak hanya itu, proses pembelajaran harus membuka akses seluas-luasnya bagi kegiatan belajar mandiri dan belajar tuntas (overlearning). Dari sini “cipta, rasa dan karsa” (Ki Hadjar Dewantara) semakin mengkristal.  
Manfaat proyek-proyek pembelajaran
            Phillips, Burwood & Dunford (1999) menyebutkan empat manfaat proyek-proyek pembelajaran, yakni:
Pertama, keterampilan intelektual. Siswa atau mahasiswa melakukan kegiatan akademik berbasis proyek (project-based academic activities) karena alasan yang beragam – membantu proses berpikir, melahirklan konsep-konsep orisinil, mendeskripsikan, menarik kesimpulan, berimajinasi, berhipotesis, membaca banyak naskah, menerjemahkan dan merencanakan.
Dalam konteks ini, setiap proyek pembelajaran bermuara pada peningkatan motivasi belajar, penguatan akses informasi, reinvestasi ilmu pengetahuan, daya tarik bidang kajian dan tantangan baru. Hanya satu kata yang bisa mewakili fakta ini – academic dynamics – suatu fenomena yang sedang marak terjadi di sekolah-sekolah atau di kampus-kampus dengan indikasi budaya akademik yang hadir dalam bentuk diskusi kelompok, cooperative learning (Richards & Renandya, 2002), kelompok belajar, seminar atau kuliah umum.
Kedua, keterampilan fisik atau motorik. Cakupannya meliputi proyek-proyek seni dan keterampilan tangan seperti mewarnai, melukis, memotong dan melipat kertas, melem dan menulis. Selain itu ada pula eksperimen yang menggunakan alat ukur, mencatat, memindahkan berkas-berkas dalam sampel penelitian.
Di saat pembelajaran terus berfokus pada upaya-upaya ini, tanpa disadari bahwa budaya akademik cepat atau lambat akan melahirkan generasi yang tekun, sabar, cekatan dan trampil meramu data-data ilmiah, atau menempatkan aspek seni pada ruang imajinasi dan kreativitas tinggi yang cenderung revolusioner (novis rebus: Latin) dan bahkan fenomenal. Pencitraan siswa atau mahasiswa sebagai calon-calon kaum intelektual tercermin melalui penemuan-penemuan unik yang pada awal mula dikerjakan secara manual (baca: aspek fisik/motorik).   
Ketiga, keterampilan sosial. Sebagai makhluk sosial, siswa atau mahasiswa belajar hidup berdampingan, belajar mengerjakan tugas-tugas bersama orang lain. Hal yang menarik dari realitas ini adalah pembangunan karakter dalam membagi peran, gagasan, keterlibatan, kolaborasi dan koordinasi, mengambil keputusan bersama dan menghargai kontribusi setiap individu bagi kesuksesan bersama.
Sosialisasi menjadi salah satu kata kunci kerjasama. Batas-batas geografis dan latar belakang kehidupan sosial dan ekonomi siswa atau mahasiswa bukan merupakan ancaman dan halangan. Semakin solid semangat ini digelorakan, atmosfir akademik semakin kondusif, kebersamaan semakin menemukan bentuknya. Istilah the power of teamwork tak pelak menjadi tumpuan perjuangan bersama, reposisi kenyataan sosial.    
Keempat, keterampilan hidup mandiri. Pada tahap pelaksanaan proyek-proyek, siswa atau mahasiswa dihadapkan dengan pilihan dan tanggungjawab yang diejawantahkan dalam membangun kemandirian akademik. Tidak ada cara lain untuk memaksimalkannya selain memutuskan bagaimana menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.
Secara langsung tuntutan ini memungkinkan perburuan informasi, perencanaan, uji coba terobosan baru, pengkajian, revisi, monitoring dan evaluasi yang akurat terhadap hasil-hasil yang telah dicapai. Pola belajar yang demikian berimplikasi positif tatkala siswa atau mahasiswa terjun ke dalam wilayah penelitian dan akademik.
Jenis-jenis proyek pembelajaran
            Berdasarkan asas kepentingan pengambil kebijakan, proyek-proyek pembelajaran terdiri dari tiga bagian (Henry, 1994) dalam Stoller (2002: 110):
Pertama, structured projects. Proyek tipe ini tergolong teacher/lecturer-centered karena guru atau dosen berperan dalam menentukan dan mengorganisir topik, materi, metodologi dan presentasi tugas-tugas pembelajaran.  
Secara faktual, keseragaman menjadi ciri khas proyek ini, tetapi harap diingat bahwa tidak semua siswa atau mahasiswa menyukainya. Alasannya sederhana saja, atas nama keseragaman, ruang kreativitas kurang diapresiasi. Tidak ada negosiasi soal konsep-konsep atau elaborasi ide-ide kecuali kalau tersedia ruang berkonsultasi.
Sebaliknya, bagi guru atau dosen, kedalaman dan akurasi ulasan sudah bisa diprediksi. Kisi-kisi jawaban sudah disiapkan. Teknik-teknik penilaian tidak akan menyulitkannya karena idealnya isi materi sudah dikuasainya. Atau minimal topik yang disodorkannya berangkat dari refensi bacaan atau disiplin ilmu yang pernah dan sedang digelutinya.
Bahayanya bahwa ketika jawaban atau ulasan siswa atau mahasiswa melenceng dari substansi ini, apakah guru atau dosen menghargainya? Apakah jawaban melenceng dianggap sebagai suatu kesalahan? Atau malah versi lain yang tidak bertentangan secara ilmiah?
Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini mudah-mudahan tidak menimbulkan kekecewaan di pihak siswa atau mahasiswa. Apalagi bila standar penilaian telah dibakukan bahkan hingga tanda koma dan titik. Kalau itu yang terjadi, metafora bahwa guru atau dosen ibarat pembunuh berdarah dingin (a cold-blooded killer) tak terhindarkan. Atau istilah “the silent killer” untuk guru atau dosen mungkin bisa dibenarkan. 
Kedua, unstructured projects. Dalam proyek ini siswa atau mahasiswa menentukan sendiri topik, materi, metodologi dan presentasi yang diinginkan (student-centered). Mereka boleh terjun bebas, mengoptimalkan potensi dan kemampuan masing-masing. Sementara tugas guru atau dosen hanya sebatas memberikan ruang bagi ekspresi ide-ide kritis dan kreativitas tanpa menghilangkan aspek obyektivitas penilaian.
Keunggulannya justru terletak pada tuntutan bahwa pengembangan individu siswa atau mahasiswa merupakan prioritas perencanaan dan pengerjaan proyek-proyek yang sungguh bervariasi. Dengan catatan bahwa nuansa akademik harus bebas dari tekanan atau dominasi guru atau dosen yang justru menimbulkan masalah.
Ketiga, semistructured projects. Proyek-proyek pembelajaran diputuskan bersama guru dan siswa, dosen dan mahasiswa. Hal-hal mengenai topik, materi, metodologi dan presentasi disesuaikan dengan kebutuhan. Setiap butir kesepakatan dipatuhi dalam kerangka mencapai level pemahaman dan kompetensi seperti yang digariskan dalam silabus. Melalui cara ini siswa atau mahasiswa, guru atau dosen menelusuri ilmu pengetahuan, mencoba membandingkan teori yang satu dengan teori yang lain, mencari titik kontras dan mengulasnya dalam laporan atau tulisan yang kemudian dibahas bersama.
Usaha ini memerlukan komitmen mengedepankan kualitas dan perjuangan lebih mengingat kompetisi akademik semakin ketat. Pembelajaran semakin menitikberatkan personal academic achievements yang dibangun melalui task motivation (Brown, 1987) dalam (Ur, 1999: 276), pengalaman, ketekunan dan kedisiplinan.
Aktivitas pembelajaran yang demikian akan dinilai dan mendapatkan pengakuan akademik. Tingkat penguasaan dan pemahaman yang lebih baik, misalnya, menjadi indikator bahwa proyek yang dikerjakan siswa atau mahasiswa telah memenuhi kriteria tertentu. Tetapi realitas di lapangan menujukan bahwa tidak sedikit siswa atau mahasiswa yang pasif dan bergantung sepenuhnya pada anggota kelompok lain.
Kondisi ini menciptakan peluang terkuburnya impian dan potensi. Wajah-wajah kosong menghiasi pergumulan ilmiah. Singkat kata, labirin kegiatan presentasi dan diskusi semakin kompleks. Belum lagi ditambah dengan kebiasaan presentasi tanpa persiapan yang dapat mengurangi kredit pencapaian kelompok.
Guru atau dosen boleh memasang target yang tinggi, tetapi tanpa berkaca pada kenyataan di kelas, pokok-pokok penilain tidak lebih dari sekadar rutinitas biasa – jauh dari kesan akademik yang sesungguhnya. Terlepas dari kesan ini, sebelum presentasi memang mutlak diperlukan bimbingan terpadu, konsultasi dan reorientasi penyelesaian akhir proyek-proyek atau tugas-tugas yang sedang digarap.
Berdasarkan teknik pengumpulan data dan sumber informasi, proyek-proyek pembelajaran terdiri dari lima bagian (Haines, 1989 dan Legutke & Thomas, 1991) dalam Ur, 1999: 111), yakni:
Pertama, research projects. Proyek tipe ini terkenal dengan teknik pengumpulan data atau informasi melalui penelitian kepustakaan. Siswa atau mahasiswa belajar untuk membiasakan diri dengan bacaan-bacaan ilmiah dan berhadapaan langsung dengan teks-teks yang harus dicerna dan diulas kembali isinya. Proses belajar seperti ini melelahkan, tetapi memberikan keuntungan bagi aplikasi pendekatan kognitif terhadap gagasan-gagasan para ahli dan ilmuwan.
Kedua, text projects.  Proyek jenis ini menuntut siswa atau mahasiswa untuk membaca, memahami dan mengulas kembali teks-teks sastra, laporan, berita media, materi video dan audio atau informasi-informasi berbasis komputer dan internet.
Bagi siswa atau mahasiswa yang gemar membaca karya-karya sastra dan linguistik, misalnya, proyek teks menguak konsep kehidupan dalam latar fiksi ilmiah, dunia linguistik dan nonlinguistik. Jadi proses pembelajaran berlangsung menurut sudut pandang cerita, lakon, keindahan berbahasa dan lain-lain yang dirangkai secara logis, sistematis dan akurat dalam frase, ungkapan, puisi dan istilah-istilah.
Ketiga, correspondence projects. Siswa atau mahasiswa berkomunikasi dengan pihak lain yang bergelut dalam bidang bisnis, agen-agen pemerintah, sekolah atau kamar dagang. Kegiatan korespondensi dilakukan melalui surat, feks, telepon atau e-mail dan bertujuan untuk mendapatkan informasi atau input baru.
Dalam proyek ini, pemahaman tentang bidang kajian korespondensi dibutuhkan terutama istilah-istilah teknis dan nonteknis. Namun kegiatan proyek akan lebih baik apabila digagas dalam komunitas ilmiah (the scientific community) yang menyediakan ruang dialog, diskusi dan jasa pelayanan penerjemah profesional naskah-nakah asing guna mengantisipasi degradasi konsep-konsep ilmiah yang mungkin terjadi.  
Kempat, survey projects. Siswa atau mahasiswa mengadakan survei melalui instrumen survei untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi dari para informan. Proyek ini biasanya berjalan dalam koridor pengetahuan yang cukup tentang teknik dan strategi survei. Jika tidak, kegiatan penelitian dipastikan terhambat pelaksanaannya.   
Kelima, encounter projects. Proyek ini sering dilakukan siswa atau mahasiswa yang mengambil program studi bahasa asing. Secara umum mereka ditugaskan untuk bertemu langsung dengan  tamu-tamu native speakers di luar sekolah atau kampus dan berunjuk kebolehan menggunakan bahasa asing yang dipelajarinya, merekam pembicaraan dan menulisnya kembali menjadi laporan.
Kesimpulan
Pembelajaran berbasis proyek sangat penting dalam mencapai kemandirian akademik. Untuk itu profesionalitas dan kinerja siswa atau mahasiswa diperlukan dalam mengulas materi presentasi. Sebagai kaum terpelajar, mereka seharusnya dibiasakan untuk menggali akar permasalahan, belajar bekerjasama, berpikir sistematis dan konseptual serta mencari sebanyak-banyaknya referensi pelajaran atau perkuliahan.
Maka pada gilirannya secara kognitif dan sosial, kompetensi mereka semakin baik. Dengan begitu, budaya akademik benar-benar berdampak positif bagi sosialisasi, kolaborasi, eksplorasi, imajinasi, seni teatrikal maupun debat terbuka. Dari realitas ini angin perubahan diharapkan berembus hingga menyentuh aspek pembaruan kegiatan-kegiatan pembelajaran yang lebih dinamis dan jauh dari kesan membosankan, menakutkan.

*Anselmus Sudirman, dosen PBI Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Yogyakarta   

No comments:

Post a Comment